Kamis, 17 April 2014

Tanya Jawab Tentang Manusia Kain Kafan dari Turin = Kain Kafan Yesus ?


1. Apa itu Kain Kafan Turin?



Kain Kafan Kudus, yang dalam bahasa Italia biasa disebut “La Santa Sindone” (= Kafan Kudus), adalah sehelai kain linen berukuran kurang lebih 4,36 x 1,10 meter; pada kain kafan terlihat gambar, baik bagian depan maupun bagian belakang, dari seorang laki-laki yang wafat setelah mengalami serangkaian aniaya dengan didera, dimahkotai duri, dipakukan pada salib, dan lambungnya ditikam dengan tombak. Kain ini diyakini sebagai kain yang dipergunakan Yusuf dari Arimatea untuk membungkus tubuh Yesus Kristus (Matius 27:59).


2. Bagaimana Sejarah Singkat Ditemukannya Kain Kafan?


Dalam hal ini perlu kita ingat dua peristiwa penting. Pertama: kota Yerusalem dihancurkan oleh balatentara Roma pada tahun 70 Masehi; semua penduduknya melarikan diri, termasuk Gereja awali. Kedua: peristiwa yang sama dan bahkan terlebih dahsyat terjadi pada tahun 132. Seluruh Palestina dihancurkan; sebagian besar penduduknya dibunuh sementara sebagian lainnya berhasil melarikan diri dan dilarang kembali ke kampung halaman mereka. Sepanjang kejadian ini, Kain Kafan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya dilarikan ke luar Palestina.

Pada abad kedua, di kota Edessa, Turki selatan, didapati suatu gambar khusus di atas kain yang diyakini sebagai Wajah Yesus.

Pada tahun 525, sewaktu diadakan renovasi Gereja Santa Sofia di Edessa, ditemukan kembali gambar “Wajah Yesus” di atas kain yang disebut Mandilion (= sapu tangan); gambar Wajah Yesus diyakini sebagai acheropita (= tidak dibuat oleh tangan manusia). Wajah Kudus Edessa dijadikan model untuk ratusan gambar Yesus pada masa itu.

Pada tanggal 16 Agustus 944, Mandilion dibawa dengan perarakan meriah ke kota Konstantinopel. Setelah Mandilion dibuka untuk perbaikan bingkainya, ternyata kain didapati lebih besar dari yang nampak. Ternyata, kain itu dilipat delapan kali (= tetradiplon), dan gambar yang terdapat pada kain bukan hanya gambar Wajah Yesus, melainkan seluruh tubuh-Nya, bagian depan dan belakang. Sejak tahun 1578, Kain Kafan disimpan di Kapel Kerajaan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di kota Turin (= Torino), Italia.


3. Apa yang Menarik dari Kain Kafan?

Pameran pertama Kain Kafan di Turin diadakan pada tahun 1898. Pada kesempatan itu, Secondo Pia, seorang fotografer Italia, diijinkan untuk membuat foto pertama Kain Kafan. Hasilnya amat menghebohkan; hasil foto itu seharusnya kelihatan seperti foto negatif, tetapi ternyata kelihatan sebagai foto positif, dengan demikian dapat dilihat lebih banyak hal yang sebelumnya tak terlihat oleh mata telanjang.

Setelah foto pertama itu, banyak lagi dibuat foto Kain Kafan oleh orang-orang lain juga dengan alat-alat yang semakin canggih sehingga semakin banyak detail yang dapat dilihat. Dari sana, dimulailah penelitian-penelitian seksama atas Kain Kafan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga sekarang ini.


4. Apa saja yang Ditemukan Para Ilmuwan?

Pada Kain Kafan para ahli mendapati noda-noda darah dan serum yang tidak bisa dibuat manusia. Darah adalah darah yang membeku di atas kulit seorang yang terluka, dan yang kemudian mencair kembali (= fibrinolisis) karena bersentuhan dengan kain lembab. Darah dari golongan AB; jenis golongan darah yang paling langka. Warna darah adalah merah kendati darah telah mengering, hal mana disebabkan karena Manusia Kain Kafan mati dalam penyiksaan yang hebat.

Darah Manusia Kain Kafan sama dengan darah pada Kain Peluh yang disimpan di Oviedo (Spanyol), yakni kain berukuran kurang lebih 83 x 52 cm dengan noda-noda darah sama seperti pada Kain Kafan. Menurut tradisi, Kain Peluh Oviedo yang biasa disebut Sagrado Rostro atau Wajah Kudus ini datang ke Spanyol dalam sebuah peti melalui Afrika Utara. Darah pada Sagrado Rostro memiliki golongan darah dan profil genetik yang sama dengan yang didapati pada Kain Kafan dan sama juga dengan darah pada Mukjizat Lanciano.

Gambar pada Kain Kafan merupakan foto negatif. Gambar hanya pada permukaan kain, tridimesional dan stabil secara ilmiah. Gambar didapati stabil juga dalam air, tanpa pigmen, tanpa arah, dan tidak terjadi karena tubuh bersentuhan dengan kain. Jadi, didapati juga gambar di tempat-tempat di mana kain tidak bersentuhan dengan tubuh. Hitam-putihnya gambar tergantung dari jarak dekat-jauh antara tubuh dan kain. Para ahli menyimpulkan bahwa gambar terjadi karena suatu radiasi cahaya dari tubuh itu sendiri.


5. Ada Begitu Banyak Teori dan Hipotesa, lalu Apa yang Pasti Mengenai Kain Kafan?

Banyak ilmuwan berusaha membuat gambar yang sama seperti pada Kain kafan, bertolak dari kemungkinan bahwa Kain kafan adalah palsu atau sekedar lukisan. Dilakukan eksperimen vaporograi, kontak, atau dengan strinatura, namun tak satu eksperimen pun berhasil membuat gambar sama seperti gambar pada Kain Kafan.

Eksperimen serupa dilakukan Dr Sebastianus Rodante dengan menyemprotkan cairan kering dan darah pada wajah mayat, lalu ditutup dengan kain yang sudah dibasahi dengan cairan mur dan aloe. Gambar terjadi setelah kontak selama 36 jam. Tetapi, gas amoniak yang keluar dari mulut mayat, akibat proses pembusukan, merusakkan hasilnya. Gas amonia menyebar ke segala arah, bukan hanya ortogonal (atas bawah) seperti terjadi pada Kain kafan. Sementara pada Kain Kafan sama sekali tidak didapati adanya tanda-tanda terjadinya pembusukan.

[Image: 1f3C0.jpg]

Jadi, gambar PASTI bukan hasil alat-alat artifisial. Bukan lukisan dan bukan cetakan; sama sekali tidak didapati adanya pigmen. Bukan hasil vaporografi, yakni proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan amonia yang dikeluarkan tubuh sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Bukan juga hasil strinatura, yakni kain ditempelkan pada patung panas, sebab gambar hasil strinatura tembus pada kain, condong hilang dan pantulan cahayanya berbeda dengan yang ada pada Kain kafan.


6. Jadi, Kain Kafan Bukan Hasil Rekayasa Seniman Abad Pertengahan?

Pada Abad Pertengahan sama sekali tidak ada pengetahuan tentang pencambukan dan penyaliban, sebab hukuman itu sudah tidak dipakai lagi sejak akhir abad pertama. Seandainya Kain Kafan adalah hasil pemalsuan dari abad pertengahan, si jenius pemalsu tentunya tidak membuat sesuatu yang bertentangan dengan ikonografi pada masa itu, yakni: mahkota duri seperti helm, memikul patibulum (= palang, dan bukan salib), paku pada pergelangan tangan, telanjang total dan tanpa kayu penahan kaki. Mestinya juga ia memperhatikan adat pemakaman orang Yahudi pada masa Kristus.

Si pemalsu haruslah memakai mikroskop untuk menambah beberapa elemen yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti sari bunga, serum, rempah-rempah, aragonit; padahal mikroskop baru ditemukan pada akhir abad keenambelas. Ia juga harus mengenal alat foto, padahal alat foto baru ditemukan pada abad kesembilanbelas. Ia harus mengenal pula dua jenis aliran darah, vena dan arteri, yang baru dikenal pada tahun 1593, dan menodai Kain Kafan dengan dua jenis aliran darah tersebut tepat pada tempatnya. Lagi, seandainya si pemalsu memiliki segala teknologi yang disebutkan di atas, ia seharusnya juga memiliki kecakapan serta alat-alat yang diperlukan untuk membuat gambar seperti Kain Kafan. Dan si pemalsu itu, yang luar biasa jeniusnya, tidak meninggalkan bekas, atau catatan, atau sesuatu yang di kemudian hari dapat dideteksi menggunakan alat-alat canggih seperti sekarang ini.

Yang pasti adalah bahwa Kain Kafan telah dipergunakan untuk membungkus jenasah. Itu berarti, jika Kain Kafan itu hasil rekayasa, maka si pemalsu adalah seorang pembunuh. Dalam kasus ini, tingkat kesulitan akan lebih tinggi.

Pikirkan:
si pemalsu memakai seorang yang bentuk wajahnya sangat mirip dengan semua ikon “Wajah Kudus” yang beredar sebelumnya. Ia harus menyiksa korbannya begitu rupa demi mendapatkan luka-luka sesuai dengan ikon-ikon yang beredar. Ia harus menikam lambung korbannya dengan tombak Romawi dan membubuhkan darah dan serum. Ia harus membungkus jenasah korbannya selama kurang lebih 35 jam, tanpa membiarkannya mengalami pembusukan; hal mana sangat sulit, sebab tubuh orang yang mati karena penyiksaan akan lebih cepat membusuk. Dan akhirnya, ia harus “mengeluarkan” jenasah dari Kain Kafan tanpa mengakibatkan pergeseran dan merusak bekuan darah. Untuk ukuran saat ini saja, abad teknologi yang serba canggih, sangat sulit melakukan hal-hal seperti di atas, apalagi pada Abad Pertengahan!


7. Bagaimana Disimpulkan bahwa Kain Kafan berasal dari Palestina?

Ada beberapa alasan yang menyebabkan para ahli menarik kesimpulan bahwa Kain Kafan berasal dari daerah Palestina:
  1. cara kerja pembuatannya agak kasar: benang diputar arah Z (searah jarum jam); tenunannya 3 a 1, adanya bekas-bekas katun Mesir yang sangat kuno; tidak didapati serat binatang (wol), sesuai ketetapan hukum Yahudi yang tidak memperbolehkan mencampur benang alami dengan benang wol;
  2. didapati banyak sekali jenis sari bunga yang berasal dari Timur Tengah, di antaranya aloe (= gaharu) dan mur;
  3. didapati adanya aragonit, yaitu sejenis kalsium yang banyak ditemukan di gua-gua sekitar Yerusalem;
  4. didapati adanya bekas gambar mata uang yang diedarkan oleh Ponsius Pilatus pada tahun 29 M pada mata kanan dan kiri Manusia Kain Kafan.


8. Bukti2 Apa Saja yang Menguatkan bahwa Kain Kafan Sungguh Digunakan untuk Membungkus Tubuh Yesus?

Front


  1. Crown of thorn wounds
  2. Crease in linen
  3. Burns from 1532 fire
  4. Scourge marks
  5. Repair from fire
  6. Side wound from Spear
  7. Water marks (from the fire)
  8. Blood flow on arms
  9. Nail wounds
  10. Water marks (from the fire)
  11. Nail wounds in feet


Back (dorsal)


  1. Burns
  2. Crown of thorn wounds
  3. Crease in linen
  4. Scourge marks
  5. Shoulder wound
  6. Left shoulder-blade wound
  7. Repair from fire
  8. Blood flow from side wound
  9. Nail wound

Terdapat banyak kecocokan sempurna antara kisah Injil Sengsara dengan apa yang ditemukan pada Kain Kafan:
  •  penderaan tersendiri, terlalu banyak deraan sebagai pendahuluan penyaliban
  •  mahkota duri, hal yang tak lazim
  •  memikul patibulum
  •  dipaku, bukan diikatkan, pada salib
  •  luka pada lambungnya dan keluarnya darah dan serum
  •  kakinya tidak dipatahkan
  •  jenasahnya tidak dimandikan sebelum dimakamkan
  •  jenasahnya dibungkus dengan Kain Kafan baru yang mahal, bukan dibuang dalam lubang umum sebagaimana lazimnya
  •  tubuhnya tidak lama tinggal dalam Kain Kafan

Mustahil ada orang lain yang mengalami hal-hal yang persis sama dengan yang dialami Yesus. Mari kita lihat satu-persatu dengan lebih seksama kesamaan antara sengsara Manusia Kain Kafan dan sengsara Yesus Kristus:


A. Penderaan

Pada tanggal 4 Desember 1532 terjadi kebakaran di Kapel Kastil Chambery di mana Kain Kafan disimpan. Kain Kafan selamat, tetapi terbakar di bagian pinggir lipatannya ketika reliquary perak - tempat Kain Kafan disimpan - mulai meleleh. Para suster Klaris yang diminta menambal Kain Kafan dan yang sempat mengamati gambar dengan seksama, mengatakan bahwa sekujur tubuh Manusia Kain Kafan penuh luka-luka hingga nyaris tidak ada tempat tanpa luka. Sekarang, berkat penelitian dan peralatan canggih dapat direkonstruksi bagaimana penderaan yang diderita Manusia Kain Kafan.



Manusia Kain Kafan menanggung lebih dari 120 deraan, sementara hukum Yahudi memperbolehkan hanya 40 dikurangi satu deraan. Berarti hukuman dilakukan menurut hukum Romawi yang tidak membatasi jumlah deraan.
Setiap deraan dilakukan secara sistematis, bukan sembarangan, berarti dilakukan oleh orang-orang yang profesional.

Cambuk yang digunakan dilengkapi dengan dua bulatan timah atau tulang pada ujungnya.

Manusia Kain Kafan didera dalam keadaan telanjang, kelihatan bekasnya di mana-mana di sekujur tubuh, dalam posisi terikat dan membungkuk. Ia didera sebelum memikul salib, berarti hukuman penderaan merupakan hukuman tersendiri. Barulah kemudian ia memikul palang salib (= patibulum) seperti terlihat dari luka-luka memar pada pundaknya di atas luka cambuk.


B. Mahkota Duri


The Crown of Thorns - click to view larger image

Terdapat banyak luka tusukan akibat mahkota duri pada kepala Manusia Kain Kafan. Mahkota ini bukan terdiri dari satu atau dua lingkaran, melainkan lebih merupakan suatu mahkota berbentuk helm yang menutup seluruh kepala. Mahkota duri seperti tampak pada gambar atau patung yang banyak beredar sekarang adalah hasil devosi dan gaya lukis artis Eropa abad pertengahan.

Kepala, baik `kiri maupun kanan' menderita lebih dari 50 tusukan duri. Duri-duri itu menembusi juga beberapa pembuluh darah, vena dan arteri, seperti terlihat dari jenis darah yang membasahi seluruh kepala Manusia Kain Kafan. Ada dua noda darah akibat tusukan duri yang perlu kita beri perhatian secara khusus: Pertama, darah berbentuk angka tiga yang mengalir dari dahi Manusia Kain Kafan. Darah itu adalah jenis darah vena yang memancar dari pembuluh vena di dahi; berbentuk demikian sebab terhalang oleh kerut dahi akibat menahan rasa sakit karena tusukan duri. Yang Kedua adalah darah yang mengalir di bagian kanan atas kepala Manusia Kain Kafan. Darah itu memancar dari pembuluh arteri, dan karena tekanan yang kuat, maka mengalir lebih jauh.

Permasalahannya adalah: adanya dua jenis tekanan darah pada manusia, yakni vena dan arteri, baru ditemukan pada tahun 1595 oleh Andrea Cesalpino. Seandainya Kain Kafan adalah hasil rekayasa manusia abad ke-13, bagaimana mungkin si pemalsu bisa menempatkan kedua jenis darah itu tepat pada tempatnya, padahal ia tidak mengenal tekanan darah vena dan arteri?


C. Manusia Kain Kafan Memikul Patibulum


The Cross - click to view larger image

Sebagian besar lukisan Yesus memikul salib menggambarkan salib yang lengkap, dengan tiang dan palang. Lukisan macam itu merupakan hasil devosi dan bukan berdasarkan pengetahuan ilmiah. Dari penelitian cermat atas Kain Kafan, terlihat dua luka memar pada punggung Manusia Kain Kafan; yang kiri lebih rendah dari yang kanan. Seandainya ia memikul seluruh salib, luka akan terjadi di bagian atas bahu, dan bukan pada punggung. Mengingat si terhukum harus berjalan ke tempat eksekusi, maka bisa dipastikan bahwa kedua luka memar adalah akibat gesekan punggung dengan kayu patibulum.


D. Luka-luka pada Lutut


Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Kalvari, apabila pesakitan yang hendak disalibkan lebih dari satu orang, maka mereka akan diikatkan satu dengan yang lain agar tak dapat melarikan diri. Manusia Kain Kafan berjalan tertatih-tatih, sebab ia telah begitu lemah akibat penderaan, pemahkotaan duri, serta segala perlakuan kasar dan brutal yang dideritanya seperti terlihat jelas dalam Kain Kafan. Ditambah lagi, posisinya berada di urutan paling belakang dalam iring-iringan ketiga orang yang dijatuhi hukuman mati, membuat ia rentan jatuh berkali-kali dengan lutut dan wajahnya menghantam batu jalanan yang keras. Pada Kain Kafan ditemukan banyak “tanah lumpur” pada lutut, hidung dan tumit, jelas akibat benturan dengan batu jalanan.


E. Wajah Manusia Kain Kafan

[Image: egjHQ.jpg]

[Image: sWQDW.jpg]

Wajah Manusia Kain Kafan merupakan bagian tubuh yang paling dahsyat mengalami kerusakan. Tetapi wajah itu tetap memancarkan cahaya keagungan; sedih namun tetap tenang. Bukan seperti wajah orang yang telah mengalami sekian banyak penyiksaan.

Pada wajah Manusia Kain Kafan nampak sangat jelas akibat dari bermacam-macam siksaan, di antaranya:
  •  dipukul dengan tongkat kayu; lihat pipi kanan dan hidung
  •  mata kiri tertutup darah; darah juga terdapat pada mata kanan
  •  memar pada tulang pipi
  •  darah memancar dari hidung
  •  memar pada kelopak mata kiri dan kanan
  •  darah memancar dari bawah bibir atas

Setelah mengetahui apa yang terjadi pada wajah Manusia Kain Kafan, kita jadi lebih mudah memahami mengapa tradisi devosi Kristiani menempatkan seorang perempuan di jalan salib, Veronica, yang mengusap Wajah Kudus Yesus! Perhentian Jalan Salib ke-VI mencoba mengungkapkan justru devosi, hormat dan cinta terhadap Wajah Kudus itu.







F. Luka pada Tangan dan Kaki

Manusia Kain Kafan memperlihatkan tangan yang bersilang, tangan kiri di atas tangan kanan, sehingga kita bisa melihat luka paku hanya pada tangan kiri. Dari luka ini para ahli berkesimpulan bahwa paku menembusi pergelangan tangan di tempat yang disebut Destot. Dari luka pada pergelangan tangan ini terpancar tiga aliran darah: dua aliran langsung ke pinggir dan jatuh ke tanah, sementara satu aliran sampai ke siku.


Destots Point - click to view larger image


Arah aliran darah yang berbeda ini bisa dijelaskan sebagai berikut: Manusia Kain Kafan dipaku tangannya dalam posisi berbaring di tanah pada patibulum, kemudian diangkat ke atas stipes (= tiang) sehingga posisi tangan berubah dari horisontal menjadi vertikal. Tangan kanan terlihat lebih tersiksa dari tangan kiri. Punggung tangan kelihatan rusak akibat gesekan dengan kayu. Pada tangannya tidak terlihat ibujari sebab ibujari tertekuk ke dalam akibat tarikan paku di pergelangan tangan.

X-Ray image - click to view larger image

Nailing the feet - click to view larger image

Kaki kiri Manusia Kain Kafan tampak lebih pendek dari kaki kanan. Hal ini disebabkan kaki kiri ditempatkan di atas kaki kanan dalam penyaliban. Karena Manusia Kain Kafan menjadi kaku setelah kematiannya, maka kaki kiri tetap kelihatan lebih pendek.


G. Sakrat Maut dan Wafat di Salib

Crucifiction - click to view larger image

Crucifiction - click to view larger image

Biasanya orang yang disalibkan mati setelah mengalami sakrat maut yang panjang. Bapa Gereja Origenes mengatakan bahwa orang yang disalibkan bertahan “satu malam dan hari berikutnya.” Tetapi Yesus bertahan cuma beberapa jam saja. Apakah yang mengakibatkan-Nya wafat begitu cepat?

Beberapa hipotesa:
  1. Asfissia: Manusia Kain Kafan tak dapat bernafas dalam posisi tergantung di atas salib seperti itu sehingga mengalami kejang otot dan akhirnya mati.
  2. Kolaps ortostatik: yaitu tensi tiba-tiba turun, mengakibatkan kondisi tak sadar hingga koma dan mati.
  3. Emotoraks: karena benturan keras pada dada (akibat jatuh) maka terjadi pendarahan pada paru-paru. Darah yang keluar dari luka-luka dalam itu terkumpul dalam pleura (kantung pembungkus paru-paru). Akibat terlalu banyak darah yang terkumpul di sana, Manusia Kafan tak dapat bernafas dan akhirnya mati.
  4. Jantung pecah: sekarang sebagian besar para ahli yang mempelajari fenomena kematian Manusia Kain Kafan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab intern dan ekstern Manusia Kain Kafan selama sengsara, berkesimpulan bahwa kematian terjadi akibat jantung pecah diikuti pendarahan cukup besar pada emoperikardium, yaitu kantong elastis yang membungkus jantung.

Mereka mengajukan bukti-bukti sebagai berikut:
  1. Seruan nyaring yang keluar dari tenggorokannya sebelum wafat, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Markus 15:37)
  2. Kematian-Nya yang cepat mengherankan Pilatus: “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati” (Markus 15:44)
  3. Noda darah dan air dari luka lambung.
  4. “segera mengalir keluar darah dan air” (Yohanes 19:34); banyaknya darah dan air yang menyembur dari luka merupakan suatu hal yang aneh bagi orang yang sudah mati dan sudah kehilangan banyak darah.
  5. “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yohanes 10:17-18). Alasan yang paling cocok dengan Injil dan seluruh rencana Allah adalah bahwa Yesus wafat karena Ia Sendiri menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya. Sebab Ia datang untuk menyerahkan Diri-Nya karena cinta-Nya kepada manusia.

Penjelasan Lanjut mengenai teori ini:
Orang yang mati karena jantung pecah diikuti emoperikardium akan berseru kesakitan sebelum mati; perikardiumnya dipenuhi darah hingga lebih dari satu liter. Jika orang yang mati demikian dibiarkan selama satu setengah atau dua jam dalam posisi vertikal, maka darah dalam perikardium akan terpisah menjadi dua bagian: yang merah di bagian bawah dan yang putih / kuning di bagian atas. Jika perikardium ditusuk, maka akan segera menyembur keluarlah isinya: darah dan air, yang dilihat oleh Yohanes.   


H. Luka pada Lambung


Pada lambung kanan kita melihat sebuah luka terbuka; luka itu ternganga, artinya luka terjadi setelah orangnya mati. Luka itu panjangnya 4,5 cm, lebarnya 1,5 cm, dan dalamnya diperkirakan 5 atau 6 cm. Luka terjadi karena tombak, yang membuat luka itu masuk dari bawah ke atas dan menembusi perikardium sehingga “darah dan air” tersembur keluar. Semua yang dialami Manusia Kain Kafan, seperti tergambar pada Kain Kafan, kelihatan cocok sempurna dengan apa yang dialami Yesus seperti dicatat dalam Injil.


9. Adakah Penemuan-penemuan Terbaru?


Dr John Jackson dan Eric Jumper menemukan bahwa gambar Kain Kafan merupakan foto tiga dimensi. Di samping itu, mereka menegaskan beberapa hal berikut:
  • gambar terjadi karena “bulu” Kain Kafan berubah warna. Di mana gambar lebih hitam, di situ didapati lebih banyak bulu berubah warna. Perubahan warna terjadi karena bulu mengalami dehidrasi (= kehilangan air)
  • gambar adalah proyeksi vertikal pada meja horizontal
  • tidak ada gambar kiri-kanan, sedangkan ada noda darah samping
  • di bawah noda darah tidak didapati gambar. Artinya: darah melekat terlebih dahulu, sehingga menghalangi gambar terjadi di bawahnya.


10. Apa yang Masih Belum Diketahui Mengenai Kain Kafan?

Pada Kain Kafan tidak didapati adanya tanda-tanda pembusukan, berarti Manusia Kain Kafan hanya tinggal dalam Kain Kafan sekitar 30-36 jam. Tidak didapati tanda-tanda adanya pergeseran tubuh dalam Kain Kafan; tubuh seperti lenyap begitu saja dari Kain Kafan. Gambar terjadi karena suatu pancaran cahaya. Sebagian orang mengaitkan pancaran cahaya ini dengan peristiwa kebangkitan. Yang belum diketahui adalah mekanisme fisik-kimia yang menyebabkan terjadinya gambar, yakni pancaran sinar yang tidak menembus kain, yang semakin berkurang apabila semakin jauh dari sumber.


BEBERAPA CATATAN KHUSUS:


  1. Manusia Kain Kafan dimakamkan secara layak dan pantas, sesuatu yang tak lazim bagi seorang yang dihukum mati disalib.
  2. Manusia Kain Kafan tidak dimandikan.
  3. Hanya orang kaya atau terpandang saja yang dapat menghadap penguasa meminta jenasah orang yang dihukum mati. Itulah Yosef dari Arimatea yang berani menghadap Pilatus, meminta jenasah Yesus, dan memakamkan-Nya secara pantas.
  4. Manusia Kain Kafan tinggal hanya beberapa jam saja dalam makam, antara duapuluh sampai tigapuluh jam. Lebih lama dari tenggang waktu itu, pastilah jenasahnya sudah mulai mengalami proses pembusukan, sementara tidak didapati tanda-tanda pembusukan pada Kain Kafan.
  5. Jenasah terpisah dari Kain Kafan secara istimewa atau luar biasa, sebab Kain Kafan pastilah melekat pada seluruh tubuh orang yang dibungkusnya, namun demikian tidak didapati adanya tanda-tanda jenasah dikeluarkan atau digeser pada Kain Kafan.
  6. Kain Kafan disimpan orang kendati berlumuran darah. Hal ini secara historis tak dapat dimengerti, sebab bagi orang Yahudi, menyentuh makam atau benda-benda dalam makam menajiskan orang. Di samping itu, mengambil barang dari makam, selain menajiskan, juga diancam hukuman mati. Pastilah ada suatu alasan yang sungguh luar biasa, sehingga orang menyimpan Kain Kafan.


KESIMPULAN


Secondo Pia, fotografer yang pertama kali memotret Kain Kafan, membangkitkan amat banyak reaksi, terutama di kalangan para ilmuwan. Para ahli ini telah mendekati Kain Kafan terdorong keinginan untuk menyingkapkan misterinya. Dan justru pada abad teknologi ini, tersedianya peralatan-peralatan paling canggih memungkinkan manusia datang mempelajari misteri Kain Kafan dengan terlebih cermat dan seksama. Yesus menyapa setiap orang melalui “foto negatif Diri-Nya” yang ditinggalkan-Nya sebagai tanda kasih bagi kita, dengan berkata “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27).

Puluhan sektor ilmu pengetahuan telah mempelajari Kain Kafan. Anehnya, semakin dipelajari dan diselidiki oleh semakin banyak orang dengan berbagai ragam bentuk metode yang dilakukan justru dalam upaya untuk menyangkalnya, semakin terbuktilah kesesuaiannya dengan apa yang dicatat dalam Kitab Suci. Bapa Suci Paus Paulus VI mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan “satu ikon Sengsara Yesus.” Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan Injil Kelima, sebab di sana “tertulis” dalam gambar-gambar yang sangat hidup seluruh pengalaman sengsara Yesus.

[Image: fZ7JW.jpg]

Orang-orang pertama yang menyangkal keaslian Kain Kafan adalah justru orang-orang Katolik. Tetapi, telah bangkit menentang mereka, banyak ilmuwan dari berbagai aliran kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Lihat saja Ives Delage (agnostik); Max Frei (protestan); Adler (Yahudi); Pellicori (agnostik); Vernon Miller (mormon). Mereka ini semua yang telah mendekati Kain Kafan lebih sebagai peninggalan sejarah daripada reliqui, dan mempelajarinya dengan berbagai metode dan teknik yang berbeda, telah menyatakan bahwa Kain Kafan adalah asli. Pada tahap ini, kekaguman para ilmuwan haruslah diganti dengan kekaguman iman. Tidaklah cukup membuat daftar tanda-tanda sengsara seperti yang tergambar pada Kain Kafan; tidaklah cukup mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Yesus dari Nazaret. Tetapi, lebih jauh, semuanya itu hendaknyalah menghantar kita pada iman yang lebih mendalam kepada Dia, Yesus Kristus yang kita imani, yaitu Dia yang telah menderita sengsara, wafat dan bangkit demi menebus umat manusia.

Sumber : http://pustakadigitalkristiani.blogspot.com/, (Repost)

  1. “Seminar Kain Kafan” oleh Pastor Gabriele Antonelli, CP.Lic.Thel.
  2. Edit dan tambahan: YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Apakah Benar Yesus (Pernah) Disiksa dan Disalib ?


Nama Yesus.
Nama "Yesus" adalah alihaksara dari bahasa Latin Iesus, yang berasal dari bahasa Yunani Ἰησοῦς (Iēsoûs), yang pada gilirannya juga merupakan Helenisasi dari bahasa Ibrani יְהוֹשֻׁעַ (Yĕhōšuă‘, Yosua) atau bahasa Aram יֵשׁוּעַ (Yēšûă‘), yang berarti "Yahweh menyelamatkan". Teks Yunani tidak membedakan antara Yesus dan Yosua, keduanya ditulis sebagai Ἰησοῦς. Alkitab Vulgata Latin kemungkinan adalah yang pertama yang membedakan keduanya, menuliskan Yesus sebagai Iesus dan Yosua sebagai Iosias .Nama Yesus dalam Bahasa Arab adalah Isa (عيسى, `Īsā, Essa). Jadi pribadi Isa yang anda kenal identik dengan Yesus.


Dalam Agama Kristen Katolik Yesus meninggal dengan cara disalib, namun diluar itu ada beberapa versi cerita tentang akhir hidup Yesus ini.
  • Yesus tidak disalib dan hidup berkeluarga hingga akhir hayatnya (konon ada yang mengaku keturunan dari Yesus).
  • Yesus tidak disalib, namun digantikan oleh orang lain yang serupa dengan Dia, dan Dia diangkat ke Surga.
  • Mayat Yesus dicuri para murid untuk menunjukkan bahwa Yesus bangkit dari mati.
  • Yesus disalib namun turun dari salib dan akhirnya mengembara keluar dari Bangsa Israel menjelajah bahkan hingga Mongolia dan India (konon kabarnya Ia meninggal dan dikuburkan di India).

Tulisan ini kami susun dengan referensi Alkitab dan fakta sejarah tentang akhir hidup Yesus serta konsep logika berpikir kita sebagai manusia. Terlepas  dari ketiga konsep tentang akhir hidup Yesus di atas anda sebagai pembaca silahkan menyimpulkannya. 


Fakta Sejarah Tanggal Penyaliban Yesus.
Fenomena alam yang terjadi pada saat penyaliban Yesus, dari alkitab.
  • Yesus disalib pada hari Jumat pada atau dekat Paskah (15 Nisan : Penanggalan Bangsa Yahudi), selama gubernur Pontius Pilatus (yang memerintah 26-36 M ). Berbagai pendekatan memiliki digunakan untuk memperkirakan tahun penyaliban, termasuk Injil Kanonik, kronologi kehidupan Rasul Paulus, serta model astronomi berbeda . Para sarjana telah memberikan perkiraan untuk tahun penyaliban dalam AD kisaran 30-36. Sebuah tanggal  disepakati sebagai tanggal penyaliban adalah hari Jumat, 3 April AD 33.

  • Pada hari penyaliban Yesus terdapat fenomena alam berupa "hari menjadi gelap", selama 3 jam dari jam 12 sampai jam 3 sore, Bulan nampak berwarna merah darah. Humphreys dan Waddington dari Universitas Oxford direkonstruksi skenario untuk sebuah gerhana bulan pada hari itu. Mereka menyimpulkan bahwa.: "Gerhana ini terlihat dari Yerusalem pada bulan terbit .... pertama terlihat dari Yerusalem pada sekitar 06:20 am (awal hari Sabat Yahudi dan juga awal hari Paskah di AD 33) dengan sekitar 20% dari disk dalam umbra bayangan bumi .... Gerhana selesai sekitar tiga puluh menit kemudian pada 6:50. " Selain itu, perhitungan mereka menunjukkan bahwa bayangan umbra 20% diposisikan dekat dengan leading edge, bagian terlihat pertama di bulan terbit. Sedangkan fenomena datangnya kegelapan selama 3 jam bukanlah peristiwa "gerhana matahari", Ahli sejarah Roma Julius Africanus lebih mengacu pada tulisan-tulisan Thallus bahwa fenomena tersebut merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah (anomali), karena tidak mungkin sebuah peristiwa gerhana bulan terjadi bersamaan dengangerhana matahari..

  • Terjadi gempa bumi yang dasyat, yang menyebabkan rusaknya bangunan Bait Allah. Menurut Yosefus, tirai (dinding) di Bait Allah Herodes yang terbelah memiliki tinggi 60 kaki (18 m) dan dan berdinding setebal 4 inci (100 mm). Dalam sejarah Bait Allah, ruangan ini hanya boleh dimasuki  oleh seorang Imam yang terpilih setahun sekali, dan dengan terbelahnya dinding ini maka batas antara "Ruang Maha Kudus (Holy of Holies) dan Ruang Kudus (Holy Place)" lainnya tidak ada lagi.
  • Kebangkitan arwah orang kudus (nabi) yang sudah meninggal dan menampakkan diri kebanyak orang.

Tokoh Hanas, Kayafas, Pilatus, Raja Herodes adalah tokoh sejarah yang "memang ada dan berkuasa pada tahun-tahun tersebut, memerintah wilayah Israel.


  • Hanas atau Ananos, putra Set, diangkat menjadi Imam Besar pada thn 6 M dan dipecat pada thn 15 M. Namun Hannas masih disebut Imam Besar sesudah tahun 15 M. Pada sidang pengadilan yg mengadili Yesus, Hanas melakukan penyelidikan pendahuluan sebelum pengadilan resmi yg dikepalai oleh Kayafas (Yohanes 18:13-14).
  • Yusuf, yang disebut Kayafas, menjadi imam besar Bait Allah antara ± tahun 18-36 M. Ia dipecat oleh Vitelius, gubernur Siria. Dia menantu Hanas (Yohanes 18:13).
  • Herodes Antipas (20 SM–sekitar 40 M), tetrarkh Galilea dan Perea, namanya disebutkan dalam Kis.4:27. Ia digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai orang yang memerintahkan pembunuhan Yohanes Pembaptis dan mengejek Yesus sebelum kematiannya. 


  • Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea,  ( memerintah 26-36 M ) dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene. (Lukas 3:1-2)
  • Dusta Mahkamah Agama : dikutip dari Injil Matius 27: 57- 28 : 15
        1. 27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
        2. 27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
        3. 27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
        4. 27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.
        5. 27:61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu
        6. 27:62 Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus,
        7. 27:63 dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.
        8. 27:64 Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama."
        9. 27:65 Kata Pilatus kepada mereka: "Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya."
        10. 27:66 Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.
        11. 28:1 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
        12. 28:2 Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.
        13. 28:3 Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.
        14. 28:4 Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
        15. ......
        16. 28:11 Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.
        17. 28:12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
        18. 28:13 dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.
        19. 28:14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."
        20. 28:15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini

          Fakta sejarah non-kristiani.
          • Referensi non-Kristen paling awal untuk penyaliban tersebut kemungkinan berasal dari Mara Bar-Serapion, dalam surat retoris ditulis beberapa saat setelah 73 tapi sebelum Masehi abad ke-3, di mana dia membuat hanya melewati menyebutkan "Raja bijaksana" dijalankan oleh orang Yahudi.
          • Dalam Antiquities orang Yahudi (ditulis sekitar 93 AD) Josephus sejarawan Yahudi, menyatakan (Ant 18.3) bahwa Yesus disalibkan oleh Pilatus, menulis bahwa: "Sekarang ada sekitar saat ini Yesus, seorang bijaksana, .... Dia menarik kepadanya baik Banyak orang Yahudi dan banyak dari bangsa-bangsa lain ... Dan ketika Pilatus, atas saran dari orang-orang utama di antara kami, telah menghukum dia untuk kayu salib ...."
          • Pada awal abad kedua referensi lain untuk penyaliban Yesus yang dibuat oleh Tacitus, umumnya dianggap sebagai salah satu sejarawan Romawi terbesar. Menulis di jurnal Annals ini (c. 116 AD), Tacitus menggambarkan penganiayaan orang Kristen oleh Nero dan menyatakan (Annals 15.44) bahwa Pilatus memerintahkan eksekusi Yesus.
          • Referensi lain mungkin untuk penyaliban = "menggantung"(Luk 23:39; Gal 3:13) ditemukan dalam Talmud Babel :"Pada malam menjelang Paskah Yeshu digantung. Selama empat puluh hari sebelum eksekusi terjadi, seorang pemberita pergi dan berteriak, 'Dia akan balik ke dirajam karena dia telah berlatih sihir dan Israel terpikat untuk murtad. Siapa pun yang dapat mengatakan apa-apa di hati, biarkan dia maju ke depan dan memohon atas namanya "Tapi. Karena tidak ada yang dibawa ke depan menguntungkannya ia digantung pada malam Paskah!" (Sanhedrin 43a-, Babilonia Talmud (Soncino Edition)). 


          • Pada kain kafan yang yang digunakan untuk membungkus jenasah Yesus (disebut "The Shroud of Turin") di temukan bekas penganiayaan identik dengan yang tertulis pada keempat injil.


          Fakta Peristiwa Penyaliban Yesus dari Alkitab.
          • Yesus Ditangkap : Matius 26: 47-56 ; Markus 14 : 43 -52 ; Lukas 22 : 47-53 ; Yohanes 18 : 1 -11.
          • Yesus di hadapan Mahkamah Agama : Matius 26: 57-68 ; Markus 14 : 53 -65 ;  Lukas 23 : 1-7  ; Yohanes 18 : 12 -27.
          • Yesus di hadapan Pilatus : Matius 27: 11-26 ; Markus 15 : 1 -15 ;  Lukas 23 : 1-7 ;  Yohanes 18 : 28 - 19 : 16a.
          • Yesus di hadapan Herodes :  Lukas 23 : 8-12
          • Yesus kembali di hadapan Pilatus :  Lukas 23 : 13-25
          • Yesus disalibkan dan wafat : Matius 27: 32-44 ; Markus 15 : 20b -32, Markus 15 : 33 -41 ;  Lukas 23 : 26-49 ;  Yohanes 19 : 16b - 37
          • Yesus dimakamkan  : Matius 27: 57-61 ;  Markus 15 : 42 -47 ;  Lukas 23 : 50-56a ;  Yohanes 19 : 38-42 
          • Kubur Yesus dijaga  : Matius 27: 62-66 ;
          • Kebangkitan Yesus  : Matius 28: 1-10 ;  Markus 16 : 1 -8 ;  Lukas 23 : 56b -  24 : 12 ;  Yohanes 20 : 1-10 
          • Dusta Mahkamah Agama  : Matius 28: 11-15 
          • Yesus terangkat ke Sorga  Markus 16 : 9 -20 ;  Lukas 24 : 50-53

          Keterangan : 
          • perbedaan isi tulisan mungkin dikarenakan titik berat pembahasan yang berbeda atau daya ingat penulis Injil akan peristiwa yang di bahas berbeda. 
          • hal diluar konteks yang dibahas tidak dicantumkan pada ayat tertera.



          Penyaliban Yesus dari kacamata Logika.
          • Yesus adalah seorang guru (rabi) yang mengajar di sekitar wilayah Yerusalem, Galelia, Yerikho, dan wilayah lain sehngga ia dikenal banyak orang, baik para sahabat, umat, maupun para lawannya, sehingga kekeliruan tokoh yang disalib karena "mirip" adalah mustahil.
          • Yesus ketika ditangkap disertai para murid, dan rombongan penangkapnya di ujung tombaki oleh muridnya sendiri (Yudas Iskariot), memberi tanda bahwa Ia adalah Yesus dengan menciumnya. Pada saat penangkapan terjadi mukjijat "terjengkangnya para penangkap" dan disambungnya telinga Malkus hamba Imam Besar yang putus karena sabetan pedang Petrus.


          • Yesus setelah ditangkap dibawa ke rumah Hanas, mertua Kayafas, lalu dibawa ke Mahkamah Agama di depan Kayafas, lalu di adili di depan Wali Negeri (Gubernur) Ponsius Pilatus, lalu diserahkan ke Raja Herodes, dan akhirnya dikembalikan lagi ke depan Pilatus dan diputuskan untuk disalibkan. Dalam perisiwa tersebut tentunya banyak saksi mata melihat baik "kawan maupun lawan" Yesus, seandainya Yesus diganti orang lain yang serupa tentu orang tersebut "melawan" dan menjelaskan jati dirinya yang sebenarnya.


          • Yesus didera, dipaksa memanggul kayu salib hingga disalib di bawah pengawalan para penjaga Bait Allah dan tentara Romawi, seandainya saat disalib ia turun dan pergi "lenggang kangkung" meninggalkan salib tentu segera ditangkap lagi oleh kedua kelompok penjaganya tersebut.
          • Yesus mati di atas salib, perutnya ditombak, tembus lambung dan jantungnya (keluar air (asam HCL lambung) dan darah (dari jantung). selanjutnya ia dikubur di kuburan dengan ditutup batu besar, dijaga pula oleh para tentara Romawi, dan pintu kubur disegel. seandainya para murd berniat mencuri jenasah tersebut tentunya seperti "ular menghampiri pentungan".
          • Yesus mati di kayu salib dengan disaksikan banyak orang dan dikubur dengan penjagaan ketat, apa mungkin ia keluar dari sana dan berkeluarga ?
          Dari tulisan ini maka penulis menyimpulkan "bahwa Yesus Memang Mati Di Kayu Salib", dan keempat versi akhir hidup Yesus di atas terbukti tidak benar.

          Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
          Sumber : http://pustakadigitalkristiani.blogspot.com/, (Repost)
          Referensi :
          1. http://en.wikipedia.org/wiki/Crucifixion_of_Jesus, 
          2. http://en.wikipedia.org/wiki/Jesus, 
          3. http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus
          4. http://www.sarapanpagi.org/hanas-dan-kayafas-imam-besar-vt4046.html
          5. http://id.wikipedia.org/wiki/Herodes
          6. Alkitab 
          7. Beberapa gambar ilustrasi di ambil dari Film "Gospel Of John"

          Kamis, 10 April 2014

          Mengenal Quick Count : Si Ahli Nujum Digital Penghitung Hasil Pemilu di Jaman Modern.


          Hari ini tanggal 9 April 2014 negara kita sedang melaksanakan "Pesta Demokrasi" Pemilihan Umum Nasional, memilih para wakil rakyat yang selama 5 tahun akan duduk di "gedung Dewan Perwakilan Rakyat" Tingkat II (kabupaten), Tingkat I (propinsi), dan Gedung MPR/ DPR Senayan Jakarta. Saya harap anda semua turut berperan serta dalam pesta demokrasi rakyat Indonesia ini, karena suara anda sangat menentukan nasib bangsa dan negara kita kedepan.

          Dalam 10 tahun terakhir ini setelah selesai mencoblos, biasanya kita rajin memantau hasil hitung cepat/ quick count pemilu di televisi kita, kita sering dibuat penasaran siapa pemilik suara terbanyak dalam pemilu saat ini. Artikel ini mengajak anda untuk mengetahui apakah quick count itu. 

          Quick count akhir-akhir ini ramai digunakan untuk mendapatkan hasil perhitungan pemilihan kepala daerah langsung dengan cepat dan akurat, hanya beberapa jam setelah Tempat Peungutan Suara (TPS) di tutup.

          Selain untuk kepeluan hitung cepat hasil pemilu quick count juga dapat digunakan uuntuk :

          1. Survei Evaluasi Publik atas Kinerja Lembaga Eksekutif, Lembaga Legislatif, maupun Yudikatif pada tingkat nasional maupun lokal
          2. Survei Evaluasi atas Kinerja Parpol, Kelompok-kelompok Kepentingan, Ormas atau Civil Society.
          3. Preferensi publik atas kebijakan-kebijakan publik nasional maupun daerah
          4. Survei Evaluasi publik atas hubungan antar negara dan masalah-masalah internasional.

          Tujuan Real Quick Count.
          10 Poin Tujuan Real Quick Count (Perhitungan cepat data 100 %)
          1. Solusi Program penghitungan tabulasi suara masuk di semua TPS dengan Cepat,tepat,Akurat, efektif, tidak ribet, automatic.
          2. Support maksimal TIM kami yang Berpengalaman pada Calon/Kandidat Bupati/Walikota/Gubernur di Pilkada dalam perhitungan suara cepat diseluruh TPS di Media Center dengan Program khusus yang sudah teruji kecepatannya, keefektifannya, keakuratannya serta tidak Manual tapi Automatic.
          3. Membandingkan atau sebagai data Pembanding Perhitungan suara KPUD dengan Perhitungan suara yang dilakukan oleh Kandidat Pilkada melalui hasil Real Quick Count (RQC).
          4. Sebagai Alat Pengontrolan Cepat dan tepat Perhitungan disemua TPS dalam input data suara
          5. Memperoleh Informasi perolehan suara secara real time, Cepat dan akurat karena input data dari saksi di tiap TPS
          6. Menjaga hasil perhitungan suara dari manipulasi politik/kecurangan karena data di ketahui sejak dini dan cepat.
          7. Mengetahui kemenangan dan kekalahan dengan cepat dan akurat karena berdasarkan data masuk suara di Semua TPS (100 % data semua TPS), bukan berdasarkan perkiraan, persepsi, asumsi dan ramalan.
          8. Mengatur Langkah tindakan secara cepat, tepat dan prefentive, Jika Menang dengan Amankan Suara dan Awasi jangan sampai di manipulasi/di curangi di pengitungan manual di PPK/KPUD. Jika Kalah Segera Evaluasi dan cek, dimana dan kenapa akan di ketahui sejak awal. lakukan tindakan yang di benarkan Hukum.
          9. Menjaga Pilkada Demokratis Jurdil karena input suara langsung dari TPS yang dikirmkan oleh saksi resmi kandidat
          10. Mengkondisikan Suasana kandidat, Tim Sukses, pendukung, Simpatisan dan  Masyarakat Umum untuk Informasi Awal tentang Kemenangan dan Kekalahan yang Real/nyata karena berdasarkan data tabulasi suara masuk 100 % data TPS) bukan berdasarkan prakiraan, ramalan, asumsi.

          Pentingnya Real Quick Count.
          1. Perhitungan Suara secara Cepat dan Akurat dengan komputerisasi pada saat pelaksanaan Pilkada.
          2. Proses penginputan suara di Server (pusat pengolahan data) langsung dari TPS melului SMS dan diposes oleh server secara realtime sehingga menit per menit rekapitulasi perolehan suara dapat dikatahui dan Maksimal 5 jam rekapitulasi perhitungan seluruh TPS dapat diselesaikan.
          3. RQC Menggunakan Software dirancang khusus untuk perhitungan suara secara riil/detail dan bukan menggunakan metode statistik/Survey.
          4. Operator RQC merupakan SDM yang Independen.
          5. RQC dapat dikontrol secara langsung proses pengisian suara dari awal hingga akhir melalui Layar lebar (Screen LCD).
          6. Hasil Rekapitulasi Suara RQC dapat dijadikan sebagai data pembanding dengan hasil Rekapitulasi suara KPU.
          7. Hasil Lengkap RQC dapat diperoleh dalam bentuk print out.
          8. Biaya sangat murah.


          Properti Penyelenggaraan Quick Count.


          Sebuah quick count melibatkan beberapa komponen :
          1. Obyek sampel pemilih
          2. Pengamat/ pencari data (Person Sourcer)
          3. Pusat pengumpul dan pengolah data sentral
          Dalam sebuah quick count terdapat beberapa komponen.

          • Sumber Daya Manusia.
          1. Operator/Controller di pusat data center.
          2. Person Sourcer (pengumpul sampel) saksi di tiap TPS.

          • Perangkat Lunak (Software) : Program Real Quick Count (RQC).
          • Perangkat Keras
          1. Mobile PC (Notebook).
          2. Modem Gateway SMS Center.
          3. Wireless Modem.
          4. Server (notebook).
          5. LCD Projector.
          6. Screen (layar).

          Quick count, Aplikasi Salah Satu Dari Ilmu statistik.

          Quick Count adalah metode untuk verifikasi pemilihan hasil dengan memproyeksikan mereka dari sampel dari polling stasiun. Berbeda dari exit poll, pemilih tidak bertanya siapa mereka memilih, proyeksi hasil didasarkan pada hasil resmi dari TPS. tabulasi suara paralel mirip dengan quick count, tetapi menggunakan seluruh data bukan sampel.

          Quick count ini merupakan kegiatan pengambilan sampling biasa, sama seperti survey yang sering dilakukan untuk mengkaji objek studi tertentu, perbedaan hanya pada unit terkecil yang di ambil dalam sampel. Jika survey unit terkecil adalah desa/kelurahan sedangkan quick count ini adalah TPS. Alasan waktu dan biaya menjadikan proses pengambilan sampling sering dilakukan baik dalam survey maupun quick count bahkan dalam bidang di luar politik sekalipun. 

          Quick count bekerja pada sample, bekerja pada ketidak lengkapan data, bekerja pada unit-unit statistic, juga bekerja pada bagian dari populasi, bukan keseluruhan populasi, sehingga ada distorsi dalam angka yang dihasilkan. Distorsi ini adalah gap atau perbedaan atau yang lebih dikenal dengan margin of error, margin of error timbul akibat pengambilan sampling. Idealnya sample akurat adalah sample yang dihasikan dari proses sampling yang menghasilkan margin of error yang kecil atau yang mendekati parameter yang sesungguhnya dalam populasi. 

          Lalu bagaimana cara mendapatkan sample yang akurat itu? 
          Bagaimana teknik dan proses sampling yang harus di lakukan? 


          Hal ini seringkali menjadi rahasia para peneliti cukup panjang lebar jika dijabarkan, namun ada beberapa landasan berfikir logis yang sederhana yang perlu diperhatikan, kesalahan atau error dalam menghasilkan statistic itu ada dua macam, pertama kesalahan sampling dan kedua kesalahan bukan sampling. 
          • Kesalahan sampling lebih identik dengan penggunaan metodologi yang tepat penerapan teori dan kaidah hukum peluang yang tepat, kaidah keacakan dan kaidah keterwakilan harus tercermin dalam sample yang dihasilkan nanti. Penarikan sampling yang masih relevan dengan kondisi geografis dan frame data yang ada di Indonesia ini adalah multi stage random sampling atau pengambilan contoh acak bertahap. Menurut pengalaman metode ini sudah cukup terbukti menangkap keragaman data yang ada. 
          • Kesalahan bukan karena proses sampling, hal ini tanpa disadari sering diabaikan. Jenis kesalahan ini sifatnya teknis di lapangan seperti kecurangan petugas, kondisi geografis yang sulit, perijinan dan juga kendala lapangan lainnya. 
          Setelah mengetahui jenis kesalahan dalam proses sampling tersebut, untuk menghasilkan sample dengan margin of error yang presisi maka perlu penentuan jumlah sampel optimum. Sample optimum dihasilkan dari ragam optimum, sedangkan ragam optimum tercapai pada peluang kejadian yang optimal pula. Formula penentuan sampel optimum ini cukup banyak disajikan di literature-literatur ilmiah. 

          Landasan berfikir ilmiah dan logis ini seringkali menjadi penghambat beberapa lembaga riset atau tim sukses kandidat tertentu untuk melakukan quick count, mungkin saja relawan sudah cukup mumpuni namun secara metodologi dan proses sampling belum mumpuni atau tidak ingin mengambil resiko tidak akuratnya hasil yang dihasilkan. Atau mungkin populasi yang dihadapi cukup kecil sehingga memungkinkan dilakukan mencacahan seluruh populasi atau yang lebih dikenal dengan PVT (parallel vote tabulation) atau sebagian lembaga mengenal Real Quick Count. 

          PVT atau RQC atau pencacahan seluruh populasi idealnya tidak mengandung margin of error atau hampir bisa dipastikan hasilnya akan sangat mirip dengan hasil perhitungan manual KPUD, atau zero margin of error. Namun dalam kenyataannya banyak lembaga yang melakukan PVT ini tidak sepresisi yang seharusnya. Setelah dibandingkan dengan data manual KPUD tetap saja masih mengandung margin of error, hal ini lah yang disebut dengan kesalahan bukan karena proses sampling lebih cenederung kesalahan yang dihasilkan karena human error. 

          Sering kali factor kecepatan dan keakuratan adalah dua alasan quick count sering di tunggu public dalam memperoleh informasi data hasil perhitungan suara. Bukan berarti mengabikan kaidah ilmiah dan logika berfikir demi mengejar tingkat presisi yang fantastis dan kecepatan yang luar biasa hanya untuk meraih rekor atau penghargaan, namun perlu diperhatikan transparansi metodologi yang digunakan. Sangat tidak fair dan berbahaya sekali jika hasil presisi perhitungan dilakukan dengan cara-cara yang tidak elegan dan tidak logis. 

          Populasi yang kecil contohnya, tidak perlu disebut sebagai quick count terlebih-lebih tidak melakukan pendugaan populasi, ini hal logis yang tidak terbantahkan dan tidak perlu di perdebatkan lagi. Karena quick count adalah tools atau alat yang digunakan untuk mengestimasi populasi yang cukup besar melalui proses sampling dan hampir sulit dilakukan pencacahan, jika tidak terlalu sulit melakukan proses pencacahan maka tools yang logis adalah PVT atau Real Quick Count. 

          Institusi atau lembaga survey yang ingin mematenkan proses pendugaannya yang akurat tidak harus menempuh cara-cara yang kurang terpuji dan tidak mengedepankan logika berfikir, ini fikiran kerdil, atau bahkan sampai membayar pihak pemberi penghargaan. Hal ini pengakuan semu, hanya sekedar kepentingan marketing sesaat yang kotor. 

          Perlu diketahui proses quick count akan semakin di tinggalkan seiring kemajuan teknologi dan akses informasi yang semakin baik di Indonesia. Sebetulnya secara bisnis pasar PVT atau real quick count lah yang masih terus berkembang dan akan semakin diperlukan oleh intsatansi terkait, karena perhitungan ini lebih real dan nyata.


          Metodologi Survei

          Lembaga penyelenggara quick count/ survei menerapkan prinsip probabilitas dalam penarikan sampel. Dalam pengambilan sampel, Lembaga penyelenggara quick count/ survei menggunakan teknik multistage random sampling. Dengan teknik tersebut dimungkinkan setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih atau tidak dipilih menjadi responden, sehingga pengukuran pendapat dapat dilakukan dengan hanya melibatkan sedikit responden. Meski tanpa melibatkan semua anggota populasi, hasil survei dapat digeneralisasikan sebagai representasi populasi.

          Survei yang dilakukan oleh Lembaga penyelenggara quick count/ survei mengikuti kaedah-kaedah sebagai berikut:

          1. Metode penarikan sampel: Multistage random sampling
          2. Jumlah responden minimal 400 (margin of error ± 5% pada tingkat kepercayaan 95%)
          3. Pengumpulan data: Wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuesioner
          4. Kendali mutu survei: Pewawancara berstatus minimal mahasiswa dan mendapatkan pelatihan. Wawancara dilakukan kontrol secara sistematis dengan melakukan cek ulang di lapangan (spot check) sebanyak 20 persen dari seluruh responden
          5. Validasi data: Perbandingan karakteristik demografis dari sampel yang diperoleh dari survei dengan populasi yang diperoleh lewat sensus (BPS).


          Proses Pengambilan Sampel.

          Dalam pengambilan sampel untuk survei menggunakan teknik multistage random sampling.
          • Fase pertama yang akan dilakukan adalah populasi Indonesia distrata atas dasar populasi di masing-masing provinsi di seluruh Indonesia sehingga diperoleh sampel dalam jumlah proporsional di masing-masing propinsi. Semua propinsi di Indonesia akan terjaring dalam survei ini. Strata kedua adalah pembagian atas dasar wilayah tinggal: pedesaan atau kota, yang proporsinya antara 40% (kota) berbanding 60% (desa). Di samping itu, strata juga dilakukan atas dasar proporsi populasi menurut perbedaan gender: 50% laki-laki, dan 50% perempuan.
          • Fase kedua adalah menetapkan desa/kelurahan atau yang setara sebagai primary sampling unit (PSU), dan karena itu random sistematik dilakukan tehadap desa/kelurahan di masing-masing propinsi sesuai dengan proporsi populasi. Di masing-masing desa/kelurahan terpilih kemudian didaftar nama-nama Rukun Tetangga (RT) atau yang setara, dan kemudian dipilih sebanyak 5 RT secara random. Di masing-masing RT terpilih kemudian didaftar nama kepala keluarga pada Kartu Keluarga (KK), dan kemudian dipilih 2 keluarga secara random. Di 2 keluarga terpilih, didaftar anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan yang berumur antara 17-60 tahun. Bila dalam keluarga pertama yang terpilih menjadi responden adalah perempuan, maka pada keluarga yang kedua di RT yang sama harus laki-laki yang didaftar.

          Proses Pengambilan Sampel bisa digambarkan sebagai berikut:
          A. Survei Nasional.

          Proses Pengambilan Sampel Survei Nasional


          1. Proses Pengambilan Sampel Survei Nasional
          2. Populasi Desa/Kelurahan tingkat Nasional
          3. Desa/Keluarahan di tingkat Provinsi dipilih secara random dengan jumlah proporsional
          4. RT/lingkungan kampung dipilih secara random sebanyak 5 dari tiap-tiap desa terpilih.
          5. Di masing-masing RT/lingkungan kampung dipilih secara random 2 keluarga.
          6. Di 2 keluarga terpilih ditetapkan secara random satu orang yang punya hak pilih (laki-laki/perempuan).

          B. Survei Provinsi, Kabupaten atau Kota

          Proses Pengambilan Sampek Survei Propinsi, Kabupaten atau Kota


          1. Proses Pengambilan Sampek Survei Propinsi, Kabupaten atau Kota
          2. Populasi Desa/Kelurahan tingkat provinsi
          3. Desa/Kelurahan di tingkat Kabupaten dipilih secara random dengan jumlah proporsional
          4. RT/lingkungan kampung dipilih secara random sebanyak 5 dari tiap-tiap desa terpilih.
          5. Di masing-masing RT/lingkungan kampung dipilih secara random 2 keluarga.
          6. Di 2 keluarga terpilih ditetapkan secara random satu orang yang punya hak pilih (laki-laki/perempuan).
          Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
          Sumber : 
          1. http://en.wikipedia.org/wiki/Quick_count
          2. http://www.mediasmscenter.com/
          3. http://www.lsi.or.id/