Kamis, 12 Juni 2014

Raeni, Wisudawati dengan IPK 3,96 Itu Ayahnya Tukang Becak....


Di acara wisuda Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (10/6/2014), perhatian para keluarga wisudawan dan handai taulan yang hadir mengarah pada sosok Raeni, wisudawati dari Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi (FE). 

Tanpa memperlihatkan rasa canggung, anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Mugiyono dan Sujamah itu naik becak mulai dari tempat indekosnya, sekitar kampus Unnes, menuju lokasi wisuda. Demikian pula, ketika usai wisuda, peraih beasiswa Bidik Misi itu kembali menumpang becak yang digenjot ayahnya, bahkan Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman pun ikut menumpang menuju rektorat.


Raeni yang datang dengan mengenakan kebaya dan kain lengkap dengan toga wisudanya tiba di lokasi wisuda dengan menggunakan becak. Seperti ditulis dalam situs resmi Unnes, Raeni diantar oleh ayahnya, Mugiyono, yang memang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak.

Sederhana dan penuh senyum menjadi gambaran ringkas untuk sosok Raeni (21). Dia adalah putri kedua seorang pengayuh becak yang menjadi lulusan terbaik dalam wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah.

Kesederhanaan itu pun sudah dimulai dari namanya. "Raeni. (Nama) panjangnya ya Raeniiii...," ujar pemilik indeks prestasi kumulatif 3,96 ini renyah, saat dijumpai di tempat kosnya di Jalan Kalimasada, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/6/2014). 

Meski hidup dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Raeni justru membuktikan keunggulan dan prestasinya untuk meniti masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. 

Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Prestasi itu dipertahankan hingga akhirnya dia lulus dan ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Keberhasilan Raeni tentu saja tak lepas dari peran dan dukungan Mugiyono, ayahnya. Dia mengaku terus mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.


Mugiyono, ayahanda Raeni, membenarkan kebulatan tekad dan semangat besar dari putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru yang memang menjadi cita-citanya sejak dulu.

“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Dari uang pesangon yang didapatnya itu, kata dia, di antaranya digunakan untuk membeli laptop seharga Rp5,6 juta bagi Raeni karena menyadari perangkat itu sangat dibutuhkan untuk perkuliahan.

“Selepas pensiun dari perusahaan kayu lapis, saya mbecak. Hasilnya, ya, tidak tentu, sehari Rp10 ribu. Namun, saya juga nyambi jadi penjaga malam sekolah dengan bayaran Rp450 ribu/bulan,” katanya.

Warga RT 01/RW 02, Langenharjo, Kendal itu, mengaku selama ini dirinya yang menjadi tulang punggung keluarga karena istrinya memang tidak bekerja, sementara kakak Raeni sudah menikah.

Untungnya, kata Mugiyono, Raeni mendapatkan beasiswa Bidik Misi sehingga keluarga tidak mengeluarkan banyak biaya, tinggal mencukupi kebutuhan hidupnya, seperti indekos dan makan.

Setiap hari, Mugiyono kerap mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan uang antara Rp 10.000 – Rp 50.000. 

Namun, penghasilannya kerap tak menentu. Oleh karena itu, dia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450.000 per bulan. 

Sementara itu, Rektor Unnes, Fathur Rokhman, mengatakan, sosok Raeni membuktikan bahwa tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.

Dia bahkan yakin akan makin banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu yang bisa menjadi kaum terpelajar dan sukses, bahkan mungkin menjadi pemimpin negara. Untuk mewujudkannya, Unnes sendiri menyalurkan sekitar 1.850 beasiswa Bidikmisi setiap tahun.


Raeni, Berprestasi Sejak Semula.


Raeni tak membantah capaian prestasinya membuat sebagian hidupnya berubah. Sepanjang Rabu ini saja misalnya, ujar dia, sudah banyak media meminta waktu untuk wawancara. 

Pada Rabu malam pun dia sudah harus terbang ke Jakarta untuk tampil di acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta nasional. "Ya capek sebenarnya, sampai tadi nggak sempat makan lalu diambilkan makan sama ibu kos, tapi saya bahagia dan bangga," kata Raeni dengan tetap tersenyum. 

Dengan segala keterbatasan ekonomi keluarganya, Raeni memastikan capaiannya itu bukan didapat secara instan. Dia mengatakan, semua bermula dari didikan disiplin dan tegas dari sang ayah. 

Putri pasangan Mugiyono dan Sujamah asal Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ini sudah berprestasi sejak kecil. Mengenyam sekolah di SDN 3 Langenharjo kemudian di SMP 3 Patebon dan SMK N 1 Kendal, Raeni selalu menempati peringkat satu atau dua dalam penilaian kelas. 

"Ya Alhamdulillah memang sering dapat ranking satu atau dua gitu," ujar gadis kelahiran 13 Januari 1993 ini. Manajemen waktu dan disiplin yang diterapkan ayahnya sejak kecil membuatnya terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat. 

Raeni mengaku terbiasa mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam sekolah dan kuliah. "Pas kuliah (misalnya), kalau ada materi yang nggak tahu saya nanya ke dosen pas jam jeda. Jadi minta penjelasan biar benar-benar ngerti," kata dia. 

Meski belajar dan mengerjakan tugas merupakan hal utama untuk dirinya, Raeni mengaku tetap punya waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. "Ya tetap bergaul biar banyak teman."

Selain displin, alumnus Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini mengatakan, orangtuanya selalu mengajarkan kejujuran. Dia pun bertutur saat-saat awal diterima menjadi mahasiswi Unnes.

Raeni mengaku sempat minder menjelang kuliah. Selain banyak saudaranya yang tak kuliah, dia pun sempat malu memiliki ayah yang pekerjaannya adalah pengayuh becak. "Ya sempat minder, orangtua tukang becak. Tapi setelah saya pikir lagi kenapa minder?" ujar dia.

"Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak saat kuliah, tapi mendukung saya," kata Raeni dengan mata berbinar. "Dan jelas sekarang saya sangat bangga."

Sekarang, Raeni merasa kepercayaan dirinya sudah meningkat dan dia masih menyimpan cita-cita yang lebih tinggi lagi. "Meski belum seberapa, tapi saya sudah membuat bangga dan bahagia orangtua. Ini luar biasa."

Selama kuliah di Unnes, Raeni juga menjadi asisten laboratorium pendidikan di jurusan maupun fakultasnya. Dia juga bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa penelitian. "Saya hobi melakukan penelitian dan karya ilmiah."

Bagi Raeni, menjadi sarjana adalah awal untuk meraih cita-cita lain yang lebih tinggi. Bercita-cita akhir menjadi seorang guru, dia punya keinginan untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. "Saya ingin melanjutkan kuliah di Inggris," katanya, tetap dengan kata-kata sederhana dan wajah berhias senyum itu.

Penyusun : Yohanes Gitoyo.
Sumber : 
  1. http://regional.kompas.com/, Rabu, 11 Juni 2014, 13:19 WIB
  2. http://depoktren.com/, Selasa, 10 Juni 2014.

Selasa, 10 Juni 2014

Debat Capres Ajak Rakyat Rasional Memilih !

Pasangan Capres-Cawapres No.1 Prabowo-Hatta & No.2 Joko Widodo-Jusuf Kalla saat mengikuti debat Capres-Cawapres 2014 di Jakarta, Senin (9/6/2014).

Debat perdana calon presiden dan wakil presiden yang akan dilakukan Senin (09/06) malam diharapkan bisa mengajak warga untuk memilih secara rasional, kata pengamat.

Tema debat antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla kali ini ialah mengenai pembangunan demokrasi, tata kelola pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum.

Komisi Pemilihan Umum akan menyelenggarakan debat antarpasangan capres dan cawapres lima kali. Debat yang pertama akan dilaksanakan di Balai Sarbini Senin, 9 Juni 2014,  pukul 20.00 WIB.

Slide 1

Debat pertama dari lima acara serupa yang telah dijadwalkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan disiarkan di sejumlah stasiun televisi secara langsung.

Jadwal debat dua kandidat
  • 09 Juni - Debat Capres dan Cawapres (pembangunan demokrasi, pemerintahan bersih dan kepastian hukum)
  • 15 Juni - Debat Capres (pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial)
  • 22 Juni - Debat Capres (politik internal dan ketahanan nasional)
  • 29 Juni - Debat Cawapres (pembangunan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan)
  • 05 Juli - Debat Capres dan Cawapres (pangan, energi, lingkungan)
Sumber: KPU

Direktur Program Transparansi Internasional Indonesia (TII), Ibrahim Zuhdi Fahmi Badoh mengatakan debat merupakan cara bagi dua kandidat untuk tampil dengan wawasan kebangsaan.

"Perwajahan yang muncul akhir-akhir ini (dari kampanye hitam) sudah memunculkan konflik di beberapa tempat." "Budaya debat ini menarik, untuk mendorong rasionalitas pemilih," sambungnya.


Dicermati

Sejumlah warga yang ditemui oleh BBC Indonesia mengaku cukup tertarik untuk menyaksikan debat capres dan cawapres kali ini.

"Pastinya tertarik untuk mengetahui sisi positif dan negatif capres yang kita pilih. (Saya memilih) dengan banyak faktor, debat bisa menjadi referensi tetapi yang utama adalah apa yang telah dia kerjakan," kata Sulis, seorang warga Jakarta.

Hala senada diutarakan Reyfandi, warga Jakarta lainnya: "Masyarakat bisa melihat bagaimana cara calon presiden berbicara di depan masyarakat dan kita bisa tahu visi misi mereka."


Anti korupsi

Salah satu tema yang dinantikan malam ini adalah bagaimana kedua kandidat capres menjelaskan program pemberantasan korupsi.
Ibrahim Zuhdi dari TII menilai masih ada sejumlah hal yang belum jelas mengenai program antikorupsi kedua pasang kandidat, terutama mengenai skala prioritas dan target pencapaian.

"Secara substansial beberapa poin penting sudah masuk di dua pasang kandidat. Namun, secara faktual, program Jokowi-JK lebih detail jika dibandingkan dengan Prabowo Hatta," katanya.

"Prioritas saya rasa adalah bagaimana (kedua kandidat) bisa menyelesaikan masalah ini secara sistematis dan apakah strategi nasional pemberantasan korupsi yang sudah ada sekarang tetap dipertahankan atau tidak?"

Pemaparan program yang jelas dengan target yang terukur menurut Ibrahim bisa menjadi acuan yang baik sehingga suatu saat pemilih bisa menagih janji-janji yang dua kandidat lontarkan.


Adakah Pengaruh Debat Dengan Pilihan Pemilih?

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, mengatakan hasil debat calon presiden dan wakil presiden akan mempengaruhi preferensi pemilih, khususnya kalangan menengah-atas. Alasannya, masyarakat kelas menengah-atas lebih berminat terhadap isu publik dan sering mengakses media yang menyiarkan debat.

"Kalau kalangan menengah ke bawah biasanya lebih suka menonton hiburan," ujar Qodari saat dihubungi, Senin, 9 Juni 2014. Apalagi, katanya, kalangan menengah-bawah sulit mencerna isu publik yang sering menggunakan istilah-istilah yang sulit dipahami.

Qodari menuturkan elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla terpaut sedikit. Dia mengatakan setiap kegiatan yang melibatkan kedua pasangan bisa mengubah atau bahkan membalikkan suara. Karena itu, Qodari menyarankan kedua pasangan tersebut memoles penampilan dan retorika serta memperbaiki data dan isi debat.

Dalam soal penampilan dan retorika, Qodari memprediksi Prabowo lebih unggul dibanding Jokowi. Sedangkan dalam perkara isi debat, Jokowi lebih diuntungkan karena debat bertemakan soal pemerintahan. "Jokowi cukup menyampaikan apa saja yang pernah dilakukan oleh dia," ujar Qodari. Jokowi lebih menguasai masalah pemerintahan dibanding Prabowo yang tak punya pengalaman di bidang tersebut.

Ihwal calon wakil presiden Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla, Qodari memprediksi mereka fasih membicarakan bidang ekonomi. Namun dalam soal gaya dan retorika, Kalla lebih spontan, sementara Hatta cenderung normatif.


Yuk Nonton Bareng Debat Capres Tanggal 9 Juni 2014.

Bagi anda yang belum sempat atau ingin melihat ulang Debat Capres pada tanggal 9 Juni 2014, silahkan lihat di streaming video di bawah ini.


Video [Full HD] Debat Capres Cawapres 9 Juni 2014.
Durasi : 1 jam 46 menit 33 detik

Pennyusun : Yohanes Gitoyo.
Sumber :
  1. http://www.bbc.co.uk/.
  2. http://pemilu.tempo.co/.

Jumat, 06 Juni 2014

Larang Ibadah di Rumah, Kapolri Dinilai Tak Mengerti Aturan !


Sekretaris Dewan Nasional Setara Institut Antonius Benny Susetyo menilai Kepala Kepolisian RI Jenderal Pol Sutarman tidak mengerti peraturan karena melarang rumah dijadikan sebagai tempat ibadah. Menurut peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, rumah dapat digunakan untuk ibadah keluarga.

"(Pernyataan Kapolri) itu salah. Peraturan bersama Menag dan Mendagri, ibadah keluarga itu boleh dilakukan di rumah," ujar Benny seusai acara bertajuk "Pluralitas Masyarakat Menuju Indonesia Satu" di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (3/6/2014).

Ia mengatakan, peraturan yang dimaksud adalah Peraturan Bersama Menag dan Mendagri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. Peraturan itu mengatur ibadah terbagi menjadi dua, yaitu ibadah permanen dan ibadah keluarga. Ibadah keluarga di antaranya adalah doa rosario, seperti yang digelar di Sleman, DI Yogyakarta, ketika sekelompok orang kemudian melakukan penyerangan, Kamis (29/5/2014). Bentuk ibadah keluarga lainnya adalah tahlilan, upacara kelahiran, dan upacara kematian.

Benny mengatakan, ketidakpahaman pejabat negara terhadap peraturan itulah yang menyebabkan kekerasan atas nama agama marak terjadi. Lagi pula, kata dia, tanggung jawab kepolisian adalah menegakkan hukum atas tindakan kekerasan yang dilakukan orang.

"Ranah agama bukan ranah kepolisian. Itu persoalan kekerasan, bukan persoalan agama," katanya.


Sebelumnya, Sutarman mengimbau agar rumah tidak digunakan sebagai tempat ibadah dengan alasan pengawasan sulit. Hal itu dikatakannya saat ditanya soal penegakan hukum terkait penyerangan rumah Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus oleh sekelompok orang, Kamis (29/5/2014) malam. Penyerangan terjadi ketika rumah tersebut dipakai untuk ibadat doa rosario.


Pendapat Jusuf Kalla "Seseorang boleh berdoa di mana pun."


Calon wakil presiden Jusuf Kalla (JK) mengecam kekerasan berbau SARA yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. JK meminta Polri turun tangan untuk mengungkap dan menindak para pelaku.

"Di negara kita, kekerasan dalam bentuk apa pun, apalagi yang bersifat SARA, itu sangat melanggar hukum, pelanggaran besar," kata JK, di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Senin (2/6/2014).

Saat melontarkan itu, JK baru saja menjenguk Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus yang menjadi korban kekerasan oleh sekelompok orang berjubah. Kekerasan yang menimpa Julius terjadi ketika rumahnya digunakan untuk ibadah doa rosario beberapa hari lalu.

Mantan wakil presiden itu menyayangkan sejumlah kasus kekerasan berbau SARA yang terjadi di Yogyakarta beberapa hari ini. Pasalnya, Yogyakarta merupakan kota yang tenteram dan dihuni oleh warga yang menghormati keberagaman.

"Seseorang boleh berdoa di mana pun. Kita ngaji di rumah-rumah enggak ada soal, kenapa orang beribadah di rumah sendiri ada yang marah? Julius sudah memaafkan secara pribadi, tapi secara hukum harus tetap ditindak tegas," tandasnya.

Dalam tiga hari terakhir, dua aksi intoleransi terjadi di kota yang menjunjung tinggi pluralitas itu. Terakhir, Minggu (1/6/2014) siang, di Kabupaten Sleman, puluhan orang merusak sebuah bangunan yang biasa dipakai umat Kristen untuk beribadah.

Bangunan yang dirusak itu milik pendeta berinisial NL. Bangunan yang bersebelahan dengan rumah NL itu terletak di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman. Penyerangan bermula saat NL bersama sejumlah anggota jemaatnya menggelar kebaktian di bangunan itu sekitar pukul 08.30. Karena tidak suka, puluhan warga Pangukan melancarkan aksi protes.

Sebelumnya, Kamis (29/5/2014) malam, rumah Julius di Dusun Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, diserang puluhan orang. Penyerangan yang dilakukan saat beberapa umat Katolik berdoa bersama di rumah itu membuat sedikitnya lima orang terluka. Hingga Minggu sore, Polri baru menangkap satu tersangka.

Penulis : Deytri Robekka Aritonang
Editor  : Laksono Hari Wiwoho
Sumber : http://nasional.kompas.com/, Selasa, 3 Juni 2014, 19:57 WIB.