Jumat, 13 Februari 2015

10 Tips Sederhana Untuk Mendidik Anak Menjadi Pengusaha Sejak Dini


Menjadi pengusaha bukan hanya sekedar pilihan hidup semata, tapi jiwa kewirusahaan sangatlah penting dalam membentuk kepribadian yang tangguh. 

Untuk itu menjadi pengusaha haruslah dibiasan dan dilatih sejak usia dini.Ada sepuluh poin tentang bagaimana cara mengembangkan jiwa bisnis kepada anak.
  1. Pertama, ajarkan anak anda untuk mempunyai target-target tertentu dan ajarkan mereka bagaimana cara mencapainya. Permainan yang bisa dilakukan bersama anak anda adalah dengan cara mengajak anak untuk menuliskan 10 keinginan mereka. Kemudian dari 10 keinginan itu, ajaklah anak untuk berpikir, keinginan mana yang paling bisa membawa manfaat terbesar bagi hidup mereka. Lalu jadikan keinginan itu menjadi suatu fokus yang harus dicapai. Langkah berikutnya adalah berikan langkah-langkah terperinci kepada mereka, supaya mereka mengetahui cara untuk mencapai target tersebut. Tidak lupa untuk selalu memberikan pujian dan motivasi jika mereka berhasil melakukan satu tahap.
  2. Kedua, ajarkan anak untuk bisa melihat peluang. Banyak orang tidak mendayagunakan potensi yang ada pada diri mereka, karena mereka kurang bisa melihat peluang disekitarnya. Karena dari itu, sangatlah penting untuk mengajarkan anak untuk melihat potensi dan peluang yang ada pada diri mereka dan disekitar mereka. Bagaimana caranya? Tanyakan pada mereka tentang hal-hal kecil yang terkadang mengganggu diri mereka. Sebagai contoh, sebagian anak merasa kesal jika mereka tidak mampu untuk mengambil barang dari tempat yang tinggi. Kemudian ajaklah mereka untuk berdiskusi bagaimana cara memecahkan masalah tersebut. Hal ini akan mengajarkan pada mereka untuk membuat solusi dan akan memacu mereka untuk mengungkapkan ide mereka.
  3. Ketiga, ajarkan anak untuk belajar berjualan. Ilmu untuk berjualan bukan hanya harus dimiliki oleh seorang pengusaha, tapi disegala bidang karir. Karena itu ajarkan anak anda untuk berjualan, karena dengan berjualan, sang anak tidak malu untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Bagaimana cara mengajarkannya? Ajaklah anak untuk berjualan mainan-mainan yang telah tidak terpakai dirumah, atau buku-buku bekas. Biarkan mereka untuk menentukan harga jual dari barang tersebut dan bantu mereka saat transaksi penjualan berhasil seperti menghitung uang kembalian, membungkus produk yang berhasil dijual dan berterimakasih kepada pembeli.
  4. Keempat, ajarkan anak untuk mengelola keuangan. Pengelolaan keuangan sangatlah jarang diajarkan disekolah, karena itu sebagai orang tua kita bisa membatu mereka dengan cara ajarkan mereka berjualan atau membantu anda berjualan. Kemudian ajarkan bahwa uang yang didapat bisa menghasilkan yang lebih banyak dengan cara memutar uang tersebut untuk berdagang berikutnya. Tidak lupa untuk mengajarkan mereka untuk bersedekah dari setiap penghasilan yang mereka dapatkan.
  5. Kelima, ajarkan tentang marketing. Cara marketing atau memasarkan produk sangatlah penting. Tanpa metode pemasaran yang baik, maka suatu usaha bisa mengalami kegagalan. Lalu bagaimana caranya? Ajak anak anda untuk melihat papan, poster atau iklan tentang suatu produk yang sama tapi dari beberapa iklan perusahaan yang berbeda-beda. Lalu tanyakan pada mereka, mana iklan yang lebih bagus dan kenapa yang satu bagus dan yang lain kurang bagus. Anda akan sangat terkejut dengan jawaban-jawaban mereka yang kadang tidak terduga dan bahkan sangat menggelitik.
  6. Keenam, ajarkan anak untuk kegagalan. Di sekolah kita selalu diajarkan bahwa kegagalan itu adalah suatu bencana yang besar, tapi di dunia bisnis, kegagalan bisa menjadi guru dan motivasi untuk perubahan yang sangat bagus. Jika anak anda gagal, maka motivasilah mereka untuk belajar dari kesalahan dan untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut.
  7. Ketujuh, ajarkan anak komunikasi yang efektif. Anak jaman sekarang terkadang sangat takut untuk berkomunikasi secara tatap muka, karena mereka sangat terbiasa dengan sms dan jejaring sosial. Salah satu penunjang bisnis yang penting adalah cara kita berkomunikasi dan bernegosiasi. Cara mengajarkannya adalah dengan bermain pembeli dan penjual. Pertama contohkan anda sebagai penjual dan anak anda sebagai pembeli. Contohkan kepada mereka bagaimana cara untuk menghadapi pembeli dengan baik. Kemudian gantilah peran tersebut, sekarang anda menjadi pembeli dan anak menjadi penjual. Dengan ini anak anda terlatih untuk berkomunikasi dan berani menanggapi kemauan orang lain.
  8. Kedelapan, ajarkan anak mandiri dan percaya diri. Pastinya kita ingin anak kita menjadi anak yang mandiri dan sukses. Lalu bagaimana caranya? Setiap kali anak anda meminta mainan baru, ajaklah anak anda berpikir bagaimana cara menghasilkan uang agar bisa membeli barang tersebut. Hal ini akan meningkatkan daya kritis dan daya kreatifitas mereka.
  9. Kesembilan, ajarkan anak untuk saling tolong-menolong. Buat apa berhasil dalam suatu bisnis jika tidak bermanfaat bagi orang lain? Sangatlah penting untuk mengajarkan anak anda untuk bersedekah, sehingga anak tidak menjadi serakah dan egois. Ajak mereka untuk memasukkan uang ke celengan – celengan masjid setiap kali mereka mendapatkan uang dari berjualan ataupun uang jajan dari anda.
  10. Kesepuluh, ajarkan anak kepemimpinan. Di sekolah anak diajarkan untuk selalu mengikuti peraturan yang ada. Mereka diprogram untuk belajar dan menghapal dan bukan untuk menjadi orang yang berpikir secara mandiri. Ilmu sebagai pengusaha mengajarkan anak untuk berpikir di luar kotak dan menciptakan solusi yang unik dan lebih baik. Bagaimana cara mengajarkannya? Beri kesempatan kepada anak anda untuk memimpin temannya pada saat bermain. Ajarkan mereka untuk berbicara di depan keluarga saat makan malam atau acara keluarga bersama.


Penulis : Dhia Prekasha Yoedha
Sumber : http://www.sekolahpengusaha.us, 6 November 2013
Valentino Dinsi |  06, 2013

Selasa, 30 Desember 2014

Transfer For Payment, Layanan Transfer Antar Bank Yang Semakin Eksis.s


Transfer For Payment menjadi varian produk baru yang merupakan pengembangan dari layanan Transfer Antarbank yang sebelumnya telah eksis. Diyakini, layanan ini akan memenuhi kebutuhan nasabah karena tidak hanya melayani nasabah perbankan, namun juga non perbankan.

Perkembangan transaksi pembayaran elektronis yang terus meningkat saat ini turut dipicu oleh beralihnya perilaku bertransaksi nasabah dari konvensional ke arah elektronis. Edukasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) hingga kalangan perbankan terkait program Less-cash Society perlahan mulai menunjukkan signal positif.


Nasabah terus memanfaatkan berbagai delivery channel, seperti ATM, EDC, Internet Banking dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan transaksi perbankannya. Sementara dari sisi perbankan, perbankan terus melakukan inovasi-inovasi layanan demi menciptakan kemudahan bagi nasabah. Salah satunya adalah fokus pada pengembangan layanan elektronis bagi nasabah.

Selain perbankan, industri non-perbankan pun saat ini turut masuk dan memeriahkan era persaingan transaksi pembayaran elektronis. Sektor barang dan jasa menjadi sasarannya, mengingat di zaman teknologi seperti saat ini di mana kebutuhan barang dan jasa semakin tinggi maka non-perbankan pun turut mengambil kue di industri ini. Tren E-Commerce yang sedang happening saat inilah yang merupakan jawabannya.

Sebagai pelaku di industri sistem pembayaran nasional, Artajasa melihat Industri E-Commerce menjadi pintu masuk dalam upaya melakukan pengembangan layanan khususnya bagi kalangan non-perbankan. Melihat tingginya tren peningkatan transaksi transfer antarbank melalui jaringan ATM Bersama dalam lima tahun terakhir, Artajasa pun meluncurkan layanan Transfer For Payment (TFP) yang akan menjembatani kebutuhan nasabah perbankan maupun non-perbankan dalam melakukan transaksi pembayaran online.

BI sendiri mencatat sepanjang Januari – Juli tahun 2013 saja, untuk layanan transfer antarbank mampu mencapai hampir 150 juta transaksi. Walaupun volumenya belum menyamai transaksi tarik tunai, namun hasil ini menggambarkan bahwa awareness nasabah terus membaik.  


TFP sendiri adalah sebuah mekanisme pembayaran online berbasis virtual account dengan menggunakan fitur transfer antar bank pada jaringan ATM Bersama yang saat ini juga telah terkoneksi dengan jaringan Prima dan ALTO, di mana nasabah dari ketiga jaringan ATM tersebut dapat melakukan pengiriman dana dari rekening bank mereka ke suatu rekening tujuan tertentu (virtual account) dengan memasukkan kode 987 sebagai kode bank tujuan dan sejumlah digit angka yang akan digunakan sebagai kode bayar.

Hadirnya TFP ini pun dilatar belakangi oleh terbatasnya kemampuan bagi biller/merchant skala kecil dan menengah untuk dapat terkoneksi dengan delivey channel pembayaran milik perbankan. Artajasa yang memiliki pengalaman terkoneksi dengan industri perbankan melalui layanan ATM Bersama tentunya mencoba memberikan solusi Transfer For Payment yang efektif dan efisien bagi kalangan non-perbankan seperti biller/merchant.

Sektor ritel tak ayal menjadi salah satu targer pasar layanan ini. Selain itu lembaga keuangan selain bank pun menjadi potensi besar yang dapat dijangkau oleh TFP. Beberapa industri tersebut di antaranya adalah Layanan Publik, Asuransi, Multifinance, Toko Online, Akomodasi & Transportasi dan Lembaga Donasi.

Setelah berjalan selama sembilan bulan di tahun 2014, saat ini sebanyak 16 merchant yang terdiri dari berbagai industri seperti Transportasi, E-Commerce, Game Voucher, Kuliner dan Asuransi, telah bergabung untuk memanfaatkan layanan TFP Artajasa ini. Keseluruhan merchant tersebut kini telah beropreasi. Ke depannya, Artajasa menargetkan pertumbuhan jumlah merchant tiga kali lipat setiap tahunnya.

Secara teknis, untuk dapat mengimplementasikan layanan Transfer for Payment ini, merchant cukup menyiapkan koneksi internet publik yang dapat menghubungkan sistem Artajasa dengan sistem billing merchant tersebut menggunakan API specification. Artajasa juga dapat menyediakan solusi hosting bila Institusi yang ingin bergabung tidak memiliki kemampuan dari sisi infrastruktur dan teknis. Untuk promosi layanan, antara Artajasa dan merchant dapat melakukan joint promo dengan berbagai macam bentuk promosi.

Tidak hanya menjamin transaksi terjadi secara real time dan online di sisi merchant maupun nasabah, keamanan dan kemudahan bertransaksi merupakan kelebihan yang dimiliki layanan TFP ini sehingga sangat dibutuhkan oleh merchant/biller yang menginginkan solusi sistem pembayaran yang handal dan terpercaya, oleh sebab alasan itu pulalah membuat merchant   yang telah bergabung tertarik untuk menggunakan layanan ini.

Dengan menggunakan jaringan transfer antar bank, pelanggan merchant yang memiliki kartu ATM bank berlogo ATM Bersama, Link dan ALTO dapat dengan mudah melakukan transfer dana untuk pembayaran barang / jasa dari merchant. Dengan kemudahan dan kecepatan layanan Transfer for Payment, tak heran bila layanan ini cukup diterima oleh masyarakat. Sosialisasi layanan ini tentu akan terus dilakukan agar jumlah transaksinya terus meningkat.

Salah satu merchant yang telah bergabung dengan layanan ini adalah Garuda Indonesia, yang secara resmi melakukan kerjasama untuk layanan pembayaran tiket online melalui transfer ATM Bersama dengan Artajasa pada tanggal 16 April 2014 lalu. Pelanggan Garuda Indonesia pun kini dapat memanfaatkan berbagai channel pembayaran perbankan untuk melakukan pembayaran tiket Garuda Indonesia secara online.

Mekanisme pembayaran tiket online ini memiliki dua tahap, tahap pertama adalah tahap pemesanan. Pelanggan Garuda dapat memesan tiket di channel yang dimiliki oleh Garuda Indonesia. Kemudian tahap kedua adalah tahap pembayaran melalui delivery channel bank anggota ATM Bersama seperti, mesin ATM, SMS Banking, Internet Banking atau Teller.

Garuda Indonesia menyediakan beberapa channel untuk transaksi secara online yaitu melalui website, Garuda Indonesia Online Sales/GOS (B2T) untuk travel agent dan Corporate Online sales/COS (B2B) untuk pelanggan corporate. Selanjutnya Garuda Indonesia juga akan mengoperasikan channel eRetail (B2C) untuk pelanggan ritel dan Mobile Application Internet. Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi member GOS dan COS untuk melakukan transaksi.

Dengan demikian, kebutuhan masyarakat akan pembayaran yang terintegrasi pun kini semakin mudah sekaligus semakin luas. 

Penulis :  Ririn Aprilia
Sumber : http://nasional.news.viva.co.id, Selasa, 30 Desember 2014

Jumat, 19 Desember 2014

Para Ibu yang Sibuk Dengan Ponsel Hasilkan Anak Yang Kurang Perhatian.


Sebuah studi terbaru menemukan bahwa jika seorang ibu ingin memiliki kedekatan dengan anak-anaknya, maka ia harus menjauhkan perangkat ponsel pintar dan gadget lainnya saat makan bersama sang buah hati. 

Para peneliti menemukan, para ibu yang mudah terdistraksi dengan ponsel saat makan bersama memiliki kedekatan yang buruk dengan anak-anaknya.

Apa alasannya? 
Menurut dr Jenny Radesky, peneliti dan instruktur klinis di Boston University School of Medicine, Amerika Serikat, hubungan dan kedekatan yang seharusnya dibangun antara orang tua dan anak saat makan cenderung berkurang, gara-gara perhatian sang ibu lebih terarah pada ponsel dan gadget. 

Secara umum, tim peneliti yang dipimpin oleh Radesky menemukan bahwa penggunaan ponsel dan perangkat lainnya selama waktu makan berpengaruh terhadap 20 persen berkurangnya interaksi verbal antara orang tua dan anak. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan hilangnya interaksi nonverbal antara orang tua dan anak sebesar 30 persen.

Studi serupa yang baru saja dipublikasikan di jurnal Academic Pediatrics menemukan bahwa para ibu yang frekuensi penggunaan ponselnya sangat tinggi selama waktu makan juga tidak memberikan banyak nasihat dan motivasi kepada anak-anaknya. Mengenai hal ini, para peneliti merasa tidak terkejut. 

"Temuan dalam studi ini menunjukkan apa yang kami lihat adalah sebuah kebenaran. Setiap orang yang berinteraksi dan terhubung dengan perangkat elektronik secara berlebihan akan melupakan hubungan antar manusia pada waktu yang nyata dan sebenarnya," ujar dr Ron Marino, direktur pediatrik di Winthrop-University Hospital, Mineola, New York, Amerika Serikat.

Lebih lanjut, dr Marino menjelaskan, sudah sepatutnya anak-anak merasakan kehadiran orang tuanya, baik secara fisik maupun secara verbal. Ketika perhatian sang ibu terpecah atau malah terfokus pada media dan perangkat elektronik, maka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan sosial akan berkurang atau hilang. 


Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Syafrina Syaaf
Sumber : Psychology Today, dikutip dari http://female.kompas.com/, Kamis, 18 Desember 2014, 16:52 WIB.