Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Mengajarkan Rasa Syukur Pada Anak.


Rasa bersyukur atau rasa berterimakasih sangat penting untuk dikenal oleh anak-anak sejak dini. Yang paling sederhana adalah setiap anak kecil pasti diajarkan oleh orangtuanya untuk mengucapkan terima kasih setiap diberi sesuatu oleh orang lain. Namun apakah ucapan terima kasih cukup?  

Nah, ini ada beberapa tips untuk mengajarkan kepada anak untuk memiliki selalu rasa bersyukur, seperti dikutip dari berbagai sumber.  

1. Melakukan aktivitas sukarelawan bersama. 
Untuk mengajarkan bagaimana beruntungnya anak anda dengan kehidupan yang dimilikinya dapat dicontohkan dengan aktivitas sosial, seperti menyumbang barang bekas ataupun menjadi sukarelawan di acara sosial tertentu. Anda bisa juga membuat acara ulangtahun di panti asuhan dan lain-lain.

2. Berikan pujian bukan hadiah.
Berikan apresiasi kepada anak dengan pujian, bukan hadiah. Dengan memberikan hadiah secara terus menerus, lama-kelamaan anak anda akan mengukur segala sesuatunya secara materialistis. Jadi perlu dibiasakan untuk memberikan pujian sehingga anak mengerti bahwa sesuatu yang ia lakukan dengan baik lebih berharga daripada sebuah materi.

3. Berbagi cerita.
Buatlah kebiasaan sebelum tidur dengan anak anda untuk bercerita mengenai apa yang bisa disyukuri pada hari itu. Jangan lupa untuk memberi respons pada setiap cerita yang disampaikan oleh anak anda. Anda juga harus ikut berbagi mengenai cerita yang sama untuk memberi contoh kepada anak anda mengenai mengekspresikan rasa syukur.


4. Mengekspresikan rasa terima kasih terhadap yang dilakukan orang lain.
Cobalah ajarkan anak anda untuk mengucapkan terima kasih. Mengucapkan terima kasih dapat dilakukan dengan berbagai cara agar lebih mengesankan. Seperti melalui karya gambar sendiri, surat, video, dan lain-lain. Hal tersebut dapat juga mengajarkan anak anda untuk mau membuat hari seseorang menjadi lebih indah. 

5. Rasa tidak pamrih.
Sangat penting untuk dimengerti oleh anak anda bahwa setiap pemberian yang dilakukan olehnya harus disertai rasa ikhlas tanpa berharap kembali. Melakukan kebaikan tidak memerlukan alasan yang spesifik. Kebaikan dilakukan karena itu merupakan hal yang juga membahagiakan diri kita sendiri.

6. Lakukan seperti apa yang anda ajarkan.
Dalam setiap keadaan kita harus bisa bersyukur. Keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita pun harus disyukuri. Jadi anda harus selalu mau menjadi contoh kepada anak-anak anda dalam mensyukuri setiap keadaan. 

Penulis :
Sumber : student.cnnindonesia.com, Jumat, 27 Nopember 2015 13:03 WIB.

Selasa, 20 Oktober 2015

7 Tips Bisnis dari 7 Entrepreneur Terkenal !


Untuk seorang entrepreneur terutama yang baru memulai, sangatlah penting untuk berinvestasi tidak hanya dengan dana tetap juga pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan peningkatan kualitas pibadi secara menyeluruh. 

Dan untuk itulah Anda harus pintar-pintar memilih siapa yang menjadi teman dan mentor Anda karena sebagian besar yang membentuk diri Anda sebagai entrepreneur ialah orang-orang di sekeliling Anda.

Namun, jika Anda merasa tidak memiliki banyak teman apalagi mentor yang tepercaya, membaca buku dan literatur lain seperti blog atau situs yang kredibel merupakan sebuah solusi alternatif untuk membentuk pribadi entrepreneur tanpa harus repot-repot memilih teman dan mentor dalam kehidupan sehari-hari. 


Berikut ini merupakan tujuh tips dari 7 pebisnis veteran yang dikumpulkan oleh Neil Patel yang menurutnya sangat inspiratif dan penting bagi entrepreneur pemula.

(1) "Tidak ada yang namanya taruhan yang aman." (David Niu - menjual sebuah perusahaan kepada aQuantive dan juga salah seorang pendiri BuddyTV)
Jangan terlalu mudah percaya dengan sebuah tawaran bisnis yang terdengar atau terlihat menggiurkan dan sangat menguntungkan. Biasanya tawaran itu diberikan kepada orang lain termasuk Anda, bukan karena alasannya menguntungkan (karena jika memang sudah 100% benar, orang yang memberitahu Anda pastinya tidak akan mau memberitahu Anda dan berinvestasi sendirian saja). Alasan utamanya lebih untuk mendistribusikan risiko yang mereka akan hadapi dalam berinvestasi di sana. Dengan kata lain, jika tidak berhasil, paling tidak kerugian mereka tidak sebesar saat sendirian.

(2) "Bersikaplah mandiri dan proaktif." (Jeremy Schoemaker - menjual sebuah perusahaan ke MediaWhiz dan menghasilkan laba $132.994.97 dari Google per bulannya)
Pertahankan diri Anda sendiri dan janganlah takut dan ragu untuk menghadapi orang lain. Jika Anda membiarkan orang menekan Anda, Anda hanya akan lelah dan muak. Membiarkan diri untuk ditekan memang bisa ditoleransi pada awalnya namun jika intensitasnya makin tinggi dan lama, tidak ada jalan lain selain bersikap asertif karena risikonya ialah Anda dan bisnis Anda akan terpengaruh secara negatif dari tekanan ini. Tegaslah pada diri Anda sehingga tidak terus menerus ditekan oleh orang lain.

(3) "Anda tidak perlu memulai usaha untuk menjadi sukses." (Ben Huh - membeli I Can Has Cheezburger)
Bagi entrepreneur yang berpikiran praktis, mendirikan sebuah usaha dengan tujuan menjadi entrepreneur sukses merupakan hal terakhir dalam otak mereka. Jika Anda berpikiran lebih praktis dan pragmatis, nasihat Ben Huh pastinya akan Anda amini. Cukup dengan survei dan meneliti usaha apakah yang sedang bekembang pesat sekarang tetapi sedang mengalami kekurangan modal, Anda bisa berinisitaif membeli usaha potensial tersebut dan kemudian mengembangkannya dengan lebih inovatif sehingga akan lebih menguntungkan di masa depan.

(4) "Jika Anda mau tetap menghasilkan uang, Anda juga harus tetap menghabiskan sebagian untuk diri sendiri." (John Reese - bapak email marketing dan pemilik Lamborghini)
Logikanya sederhana saja, Anda terus menerus bekerja dan menabung, tetapi Anda melupakan diri sendiri. Anda terlalu ketat dengan rencana keuangan yang sudah disusun hingga tidak ada celah bahkan untuk sedikit menyenangkan diri Anda sendiri. Kendurkan kendali ketat itu sejenak dan belanjakan sebagian uang yang Anda susah payah dapat itu secara proporsional. Secara psikologis, ini kana menimbulkan efek yang baik karena bagaimanapun seorang entepreneur juga berhak untuk menikmat hidup. Kerja keras bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai kebahagiaan.

(5) "Hanya karena Anda punya uang, tidak berarti Anda bisa menghambur-hamburkannya." (Andy Liu - menjual sebuah perusahaan ke aQuantive dan merupakan salah seorang pendiri BuddyTV )
Jika usaha Anda masih dalam tahap perkembangan, agaknya terlalu dini untuk dapat berbelanja dengan leluasa apalagi menjadi boros. Bagaimanapun juga berhemat ialah satu-satunya hal yang harus Anda lakukan selama fase ini. Kekurangcermatan dalam pengelolaan keuangan hanya akan membuat usaha Anda sulit berkembang.

(6) "Mengumpulkan modal patungan lebih sulit daripada disambar petir." (Guy Kawasaki - penulis, entrepreneur, dan investor malaikat)
Seorang penanam modal yang bersedia memberikan modal pada usaha baru yang penuh risiko biasanya tidak mengerti mayoritas investasi yang dibawa ke hadapannya. Namun jika Anda dapat membuat investor itu berpikir bahwa mereka dapat menyumbang sesuatu pada perusahaan Anda dan bila Anda dapat menunjukkan perkembangan usaha Anda, investor pasti akan merasa kecewa jika tidak menananmkan modal ke usaha Anda.

(7) "Tidak ada salahnya menjadi yang terakhir." (Alex Algard - investor dan pendiri WhitePages.com)
Apabila Anda melewatkan sebuah peluang, siapa peduli, masih ada banyak peluang di luar sana. Lihat siapa lagi yang terlibat dan pertimbangkan dengan masak sebelum mengambil sebuah tindakan dan memutuskan terikat pada sebuah komitmen.

Kamis, 03 September 2015

5 Kebiasaan Orang Sukses yang Bisa Anda Tiru.


Banyak orang mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi orang sukses dan ini memang benar. Hal ini memang benar, dan nyatanya hanya sedikit orang yang bisa memanfaatkan kesempatan tersebut sehingga akhirnya menjadi sukses dan banyak juga diantara mereka yang malah menyia-nyiakannya sehingga mereka menjalani kehidupan monoton dan biasa saja.

Untuk meraih sebuah kesuksesan tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak cobaan, ujian, dan tantangan yang harus dilaluinya. Dan untuk melaluinya pun tak semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Harus dengan usaha dan tekat yang kuat serta doa agar bisa diberi kelancaran. Untuk menjadi seseorang yang sukses juga membutuhkan waktu yang tak sebentar, bahkan bisa dibilang sangat lama, tergantung usaha yang ia lakukan.


Dalam perjalanan menuju kesuksesan, kedisiplinan dan kebiasaan memiliki peran yang sangat penting, karena kedua sikap itu akan menjadi penentu sukses tidaknya seseorang. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering diabaikan orang lain, harus anda lakukan dengan disiplin dan penuh percaya diri. Sekecil apapun usaha itu pasti akan berdampak baik bagi anda dan yang melakukannya.

Sering kali orang gagal dan berhenti ditengah jalan ketika dalam perjalanan menuju kesuksesan. Mereka memilih menyerah, karena tidak sanggup melewati semua tantangan itu. Sebenarnya tantangan itu bisa anda lewati bila anda mau bersungguh-sungguh. Biasakanlah bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal, karena itu akan berdampak baik dikemudian hari. Anda yang ingin sukses, anda harus melakukan kebiasaan-kebiasaan yang membuat anda sukses. 


Agar bisa sukses, ernyata mereka semua memiliki kebiasaan yang berbeda dalam menjalani hidupnya untuk meraih sebuah sukses dan berikut adalah 17 hal yang dilakukan oleh orang-orang sukses yang mungkin bisa menginspirasi anda :


1. Punya pemikiran dan sikap positif.


Mereka yang sukses pasti mempunyai pemikiran dan sikap yang positif. Itulah mengapa mereka bisa menginspirasi banyak orang, karena pemikiran dan sikap mereka yang maju. Mereka juga memiliki sudut pandang yang baik dan optimis dalam menjalani kehidupan. Itulah yang membuat mereka berhasil meraih kesuksesan.


2. Berjiwa besar.

Keluasan hati seseorang juga akan menentukan kesuksesannya. Mereka yang sukses pasti mempunyai jiwa yang besar, tak mau kalah dengan ujian, tantangan, dan hambatan. Meskipun rasa lelah pernah dirasakannya, tapi mereka tetap berjuang dengan tekat yang kuat. Jika anda ingin sukses, anda harus bisa melawan rasa keraguan dan ketakutan yang ada pada diri anda sendiri, karena sebenarnya tantangan terberat menuju kesuksesan adalah keraguan dan ketakutan yang ada dalam diri sendiri.


3. Baik kepada orang lain.

Baik buruknya sikap seseorang juga menentukan sukses tidaknya dirinya. Orang-orang yang sukses pasti memiliki hati yang tulus dan penuh kepedulian terhadap orang lain, selalu memberi apapun yang bisa ia berikan kepada orang lain. Hal itulah yang membuat mereka diingat dan disayang oleh banyak orang, dan dengan itulah kesuksesan mereka akan semakin bertambah dan bertambah setiap waktunya.


4. Merasa nyaman pada diri sendiri.

Mereka yang bisa menerima dirinya sendiri, dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri pasti akan meraih kesuksesan dengan mudah. Lihat saja mereka-mereka yang sukses seperti Nelson Mandela, Martin Luther, Mother Teresa dan yang lainnya, mereka bisa sukses karena mereka bisa menerima apapun yang ada pada dirinya sendiri dan tidak pernah mengeluhkannya. Mereka terkenal bukan karena kecantikan, ketampanan serta kekayaan. Mereka bisa sukses dan terkenal karena mereka merasa nyaman dengan apa yang mmereka miliki.


5. Lucu.

Hidup jangan selalu dibuat sepaneng ataupun tegang, dan juga jangan selalu dibuat serius. Mereka para tokoh-tokoh terkenal dunia juga ternyata menjalani hidup mereka dengan rasa humor. Dengan sifat humor mereka, mereka jadi banyak disukai orang, karena selalu bisa menghibur disetiap suasana. Namun, sifat humor juga jangan sering dipakai. Sesekalilah bersikap humor agar orang-orang tidak merasa bosan dengan anda.


6. Mereka membuat dan berusaha memenuhi sebuah target S.M.A.R.T.

Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang objektif. Mereka selalu memiliki sebuah target yang realistis dalam pikirannya. Mereka tahu apa yang mereka inginkan dan berusaha untuk mengejar hal tersebut. Untuk itu mereka biasanya membuat sebuat target S.M.A.R.T. dan berusaha mewujudkannya.
Menurut Marc, target S.M.A.R.T. adalah Specific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Timely. Mari kita bahas satu per satu.
  • Spesific – target yang ingin anda capai haruslah spesifik, tentukan batasannya dan jangan sampai target yang akan dipenuhi meluas. Target yang lebih spesifik mempunyai kesempatan untuk  anda penuhi dan anda selesaikan lebih besar dibanding target yang umum.
  • Measurable – tidak hanya spesifik, anda juga harus membuat target tersebut dapat diukur secara logis untuk mengetahui proses dari target anda. Tanyakan kepada diri anda, seperti berapa banyak? berapa lama? Sehingga anda bisa mengetahui kapai target tersebut terpenuhi.
  • Attainable – anda harus membuat target yang objektif atau dengan kata lain dapat ada capai dan selesaikan atau dengan kata lain target tersebut harus realistik dan anda tahu cara menyelesaikan target tersebut.
  • Relevant – Target yang relevan maksudnya adalah apakah target tersebut penting dan mampu anda capai serta sesuai dengan diri anda.
  • Timely – Hal ini merupakan hal penting. Waktu, anda harus mempunyai sebuah deadline atau tenggat waktu dari setiap target yang anda buat. Ini akan membantu anda untuk lebih fouks kepada usaha anda sehingga dapat menyelesaikannya sebelum tenggat waktu yang ditentukan.

Jika anda ingin berhasil dan sukses, anda harus bisa membuat target anda menjadi target yang S.M.A.R.T. karena nantinya target ini akan membantu dan memberikan motivasi kepada anda untuk berusaha menyelesaikan target tersebut.

Setiap orang yang sukses atau berusaha ingin sukses harus mempunyai target dalam hidupnya. Jika target anda adalah sebuah kesuksesan, maka ukur kesuksesan tersebut, buat lebih spesifik, jadikan objektif dan relevan dan buat deadlinenya.

Mulailah dengan sebuah target kesuksesan yang kecil, jika anda seorang penjual sepatu. Tentukan berapa yang harus anda jual dalam satu hari, misalnya target anda menjual 1 pasang sepatu setiap hari. Capailah target tersebut terlebih dahulu, setelah anda berhasil tingkatkan menjadi 5 pasang. Jika berhasil lagi tingkatkan menjadi 10 pasang. Sampai akhirnya anda dapat menjual jutaan pasang sepatu setiap harinya dan menjadi seorang pengusaha sepatu yang sukses.


7. Mereka selalu berani mengambil tindakan tegas dan segera.

Perlu anda tahu, menjadi pintar tidak menentukan anda akan menjadi orang yang sukses. Hanya orang berani melakukan tindakan untuk merubah dirinya yang dapat menjadi orang sukses dan mereka memanfaatkan orang-orang pintar untuk bekerja kepada mereka.

Siapa itu Bill Gates? 
Dia hanyalah seorang mahasiswa yang drop out dari sekolahnya dan melakukan sebuah tindakan dengan membuat sebuah software yang akhirnya mengubah dunia ini. Hasilnya? Dia berhasil sukses dengan perusahaan Microsoft yang didirikannya,

Siapa itu Richard Branson? 
Dia hanyalah seorang penderita diseleksia yang dikeluarkan dari sekolahnya dan dengan berawal dari menjual majalah, akhirnya dia berhasil membangun sebuah kerajaan bisnis bernilai miliaran dollar, bernama Virgin Group.

Jadi anda hanya perlu berani membuat tindakan tegas untuk merubah hidup anda atau bahkan hidup orang lain menjadi lebih baik dan menjadi orang yang sukses. Semua pengetahuan dan kecerdasan sebenarnya tidak berguna sama sekali tanpa ada sebuah tindakan. Simpel kan?


8. Mereka fokus menjadi produktif, bukan menjadi sibuk.

Menjadi orang yang sibuk belum tentu akan membuat anda menjadi orang yang berhasil, tapi dengan menjadi orang yang produktif pastinya akan membuant anda sukses.

Work “smarter”, not harder. Mungkin ini adalah ungkapan yang tepat untuk sekarang ini. Bagaimana anda mengubah kesibukan anda menjadi sebuah produktifitas? Mudah. Tenangkan diri anda, review semua komitmen dan target yang sedang anda ingin capai.

Buatlah prioritas dari tugas-tugas anda, dan lakukan tugas tersebut satu per satu mulai dari yang terpenting. Berikan diri anda untuk beristirahat disela-sela tugas satu dengan tugas lainnya.

Ingat hasil adalah yang paling penting dibanding waktu yang anda capai untuk meraih hasi tersebut.


9. Mereka membuat keputusan yang logis dan objektif.

Kadang orang yang sukses dapat meruntuhkan semua yang telah dia bangun bertahun-tahun hanya dengan sebuah keputusan yang emosional, dimana dia sangat dipengaruhi perasaannya dalam mengambil keputusan tersebut.

Emosi atau perasaan memang memberikan sebuah warna yang berbeda dalam kehidupan kita. Emosi juga dapat membuat kita melakukan hal yang salah, terutama dalam membuat sebuah keputusan.

Satu hal yang perlu diingat adalah jangan sampai emosi anda menguasai akal dan logika anda dalam mengambil sebuah keputusan. Jika hal ini terjadi, tenangkan dulu diri anda, sampai anda dapat berpikir dengan jernih, setelah itu baru anda membuat keputusan.


10. Mereka menghindari untuk membuat segala hal menjadi sempurna.

Kesempurnaan memang menjadi tujuan setiap orang dalam menyelesaikan tugas atau target yang dicapainya. Tapi kesempurnaan itu juga membuat seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu dan perhatian untuk membuatnya dan juga menjaganya, sampai akhirnya mereka melupakan hal lain yang seharusnya mereka lakukan.

Seorang perfeksionis sangat menyukai sebuah kesempurnaan dalam hidupnya dan mereka juga selalu sulit untuk memulai suatu hal atau bahkan menyelesaikannya. Karena pada dasarnya  mereka selalu mempertimbangkan matang-matang suatu hal sebelum mereka memulai atau menyelesaikan hal tersebut.

Ingat, untuk menjadi seorang yang sukses tidak selalu harus menjadi orang perfeksionis, anda hanya perlu berani memulai dan menyelesaikan target anda, dan berusaha memperbaiki hasil dan proses yang anda lalui agar semakin baik dan semakin baik. Lagi pula tidak ada yang sempurna di dunia ini, iya kan?


11. Mereka bekerja diluar zona nyaman mereka.

Mereka yang sudah sukses sekarang ini, karena mereka mampu bekerja atau melakukan sesuatu diluar zona nyaman mereka. Orang-orang ini berani mengambil kesempatannya untuk mengubah hidup mereka, dan juga berani untuk menerima kegagalan yang jarang bisa diterima oleh orang-orang yang berada di zona nyaman.

Jika anda merasa hidup anda sekarang ini cukup membahagiakan dan terjamin, maka saat ini anda berada di zona nyaman. Untuk menjadi orang yang sukses, anda harus berani keluar dari zona tersebut dan melakukan sebuah tindakan perubahan serta menerima resiko sebuah kegagalan.

Perlu diingat, orang yang sukses adalah orang yang mampu menerima sebuah kegagalan yang mereka hadapi dan bangkit kembali untuk mewujudkan impiannya.


12. Mereka menjadikan sesuatu lebih sederhana

Leonardo da Vinci pernah mengatakan “Simplicity is the ultimate sophistication.” artinya kesederhanaan adalah sebuah kesempurnaan. Sesuatu yang sederhana dan simple tidak berarti berkualitas buruk, kadang hal tersebut memberikan manfaat yang berguna bagi setiap orang.

Di jaman modern ini, informasi sangat cepat bergerak dan muncul banyak inovasi yang tiada batasnya. Sayangnya hal ini membuat sebuah komplikasi, kesulitan dan juga konflik kebingungan.

Orang yang saat ini telah meraih kesuksesan berusaha selalu membuat sesuatu menjadi sesederhana mungkin sehingga mudah dimengerti dan juga dipahami.
Kita bisa mengambil contoh dari Google, dan melihat bagaimana mereka membuat mesin pencarinya begitu sederhana dan simpel dengan hanya menampilkan logo dan kotak pencari didalamnya, tanpa adanya hal-hal lain yang tidak perlu. Namun kesederhanaan tersebut, membuat Google menjadi lebih mudah digunakan, sehingga pada akhirnya perusahaan ini mampu menjadi perusahaan internet terbesar di dunia.


13. Mereka berfokus membuat sesuatu yang kecil dengan pengembangan tanpa henti.

Mulailah dengan suatu perubahan yang kecil, dengan mimpi yang besar. Tidak ada seorang pun yang mampu membuat hal besar langsung dalam sekejap mata. Semua itu dimulai dari sesuatu yang kecil dengan pengembangan tanpa henti, karena jika terus dikembangkan hal yang kecil juga lama-lama bisa menjadi besar.

Jika anda mulai dengan hal yang kecil, anda tidak harus membutuhkan banyak motivasi dan sumber-sumber untuk menciptakan hal tersebut. Setelah hal yang kecil tersebut tercipta, mulai kembangkan dan terus kembangkan sampai lama-kelamaan hal tersebut menjadi sebuah hal yang besar dan dapat mengubah orang-orang di dunia.

Lihat bagaimana Facebook memulai, dari hanya jejaring sosial kecil untuk mahasiswa, sampai akhirnya menjadi jejaring sosial yang telah memiliki 1 miliar pengguna di seluruh dunia. Atau pengusaha Bob Sadino, yang memulai usahanya dari berjualan telur keliling, sampai akhirnya dia berhasil mengelola jaringan ritel makanan Kem Chicks yang tersebar dimana-mana.


14. Mereka selalu mengukur dan melihat proses dari target mereka.


Orang-orang yang sukses tidak hanya bekerja di bisnis mereka, tapi mereka juga bekerja dalam bisnisnya. Mereka selalu mengevaluasi apa yang mereka telah lakukan. Mereka juga mengukur posisi mereka dengan target yang akan mereka capai dan berusaha mengetahui bagaimana cara meng-improve-nya.

Anda tidak dapat mengontrol apa yang anda tidak ukur dan ketahui. Jika anda mampu melihat dimana posisi anda saat ini, anda bisa memutuskan apakah cara anda sudah benar atau anda berada di jalan yang salah. Dengan begitu anda dapat memperbaiki cara anda dalam mencapai target tersebut.

Coba ukur setiap tindakan yang anda lakukan, catat proses tersebut agar anda dapat mengingatnya. Lalu tetapkan target yang ingin anda capai dan ukur apakah anda sudah mencapai target tersebut atau belum. Jika belum, pastinya ada sesuatu yang salah yang anda lakukan dan anda harus memperbaikinya agar anda mampu mencapai target tersebut.


15. Mereka berkonsentrasi kepada hal yang positif dan juga belajar dari kesalahan mereka.

Orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu berpikir positif dan berkonsentrasi pada hal positif tersebut. Mereka tahu kepositifan mereka mampu membawa mereka kepada sebuah kesuksesan.

Kehidupan ini selalu mencoba menguji anda apakah anda akan terus berpikir positif atau malah berpikir negatif. Ujian itu adalah kegagalan. Jika anda berpikir positif, anda akan melihat kegagalan tersebut adalah sebuah kesempatan dan sebaliknya jika anda berpikir negatif, anda akan melihat kegagalan adalah akhir dari semuanya.

Belajarlah dari kegagalan dan jadikan itu batu loncatan anda untuk maju lebih jauh lagi. Jangan sampai pikiran negatif menguasai anda dan melumpuhkan diri anda untuk menjadi orang sukses.


16. Mereka menghabiskan waktu dengan orang-orang yang benar.

Pernahkah anda melihat seorang direktur dari sebuah perusahaan multinasional bergaul dengan preman? Tentunya tidak. Dia pastinya akan bergaul dengan orang-orang profesional dan ahli.

Orang-orang sukses selalu menghabiskan waktu mereka untuk bergaul dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sama dengan mereka, mampu mendukung mereka dan juga satu bidang dengan mereka. Mereka membuat sebuah ikatan sosial yang dapat memunculkan energi baru bagi mereka dan membuat mereka mampu meraih target mereka.

Sebenarnya sangat sederhana, pergaulan anda akan menentukan menjadi apakah anda. Jika bergaul dengan orang-orang yang salah, anda akan mendapat energi negatif yang akan membuat anda menjadi negatif, begitu juga sebaliknya. Pastikan anda berhubungan dengan orang yang mampu mendukung anda untuk mencapai apa yang ingin anda raih.


17. Mereka berusaha menyeimbangkan kehidupan mereka.

Kadang ada orang yang berhasil membuat sukses bisnisnya dan memiliki banyak uang, namun disisi lain dia tidak bahagia karena tidak memiliki cinta dalam dirinya dan membuatnya kesepian. Atau seorang yang sangat bahagia karena dikelilingi orang yang mampu mengasihinya, tapi sayangnya orang tersebut harus bekerja keras untuk mendapatkan uang.

Jangan sampai anda terjebak dalam hal ini. Pastikan hidup anda seimbang baik untuk bisnis, sosial, keluarga dan cinta. Jika anda terlalu berfokus kepada bisnis anda, pada akhirnya anda akan menyesal karena hal tersebut. Berikan waktu kepada diri anda untuk menikmati hal-hal lain yang harus anda rasakan, jangan sampai uang membutakan pikiran anda.

Keseimbangan ini juga membantu diri anda untuk lebih bahagia dalam hidup, karena satu hal yang pasti orang sukses adalah orang yang mampu membuat dirinya bahagia dalam segala aspek hidupnya.


Demikianlah 17 kebiasaan orang sukses yang bisa anda tiru. Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut semoga anda bisa menjadi orang sukses dikemudian hari. Semoga informasi diatas bermanfaat. Terimakasih.

Sumber : 
http://log.viva.co.id, Sabtu, 29 Agustus 2015.
https://m.facebook.com/notes/fhizzgroup-business-center/12-kebiasaan-orang-sukses-yang-harus-anda-tiru/791520984197244/

Kamis, 19 Maret 2015

Pengusaha "Dilahirkan" atau "Diciptakan" ?

berani mengambil resiko

Apakah seorang pengusaha itu dilahirkan (born) atau diciptakan (made)?

Menurut saya, keduanya merupakan jawaban yang tepat karena seorang pengusaha sejati tidak mungkin berasal hanya dari salah satunya saja. 

Born berhubungan dengan bakat dan potensi sang anak yang melekat pada dirinya pada saat lahir ke dunia. Namun bakat dan potensi saja tidaklah cukup. Made menjadi faktor penting lainnya dalam membentuk karakter dan kepribadian dengan cara membekali sang anak dengan ilmu, ketrampilan serta lingkungan yang baik.

Entrepreneur is not only born but also made. Dahulu, kewirausahaan dianggap sebagai bakat yang dibawa sejak lahir sehingga tidak dapat dipelajari. Sekarang, kewirausahaan ternyata bisa dipelajari dan tidak cukup hanya mengandalkan bakat saja. Oleh karena itu, kombinasi antara born dan made menjadi sangat penting dalam membentuk kepribadian seorang pengusaha yang tangguh.

Saya percaya bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi ini memiliki bakat dan potensi yang spesial. Namun itu saja tidak cukup. Anak juga harus diberikan berbagai macam ketrampilan yang dapat digunakan saat nanti mulai menjalankan usahanya. Ketrampilan bukanlah ilmu pasti yang bisa dipelajari di bangku sekolah, namun didapat dengan langsung mempraktekkannya, atau istilahnya learning by doing. Selain ketrampilan, mengasah mental pun sangat penting agar nantinya dia bisa bangkit saat menghadapi kegagalan. 

Hal-hal seperti ini sangat penting diajarkan sejak kecil agar anak tidak manja dan bermalas-malasan. Orangtua juga harus menanamkan sikap mandiri kepada anak, sehingga nanti saat dewasa dia akan tumbuh menjadi seorang pengusaha yang tidak cengeng dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pekerjaannya.

Banyak negara maju yang telah mengajarkan kewirausahaan sejak dini. Sejak tahun 1970 di berbagai universitas terkemuka di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya sudah diajarkan tentang konsep kewirausahaan. Pada tahun 1980-an, konsep tersebut mulai diperkenalkan sejak bangku sekolah, dan bukan lagi hanya di bangku kuliah. Sehingga wajar saja, negara-negara tersebut memiliki pengusaha yang berkualitas karena sudah dipersiapkan dengan baik dan terencana. 

David C Mclelland dalam bukunya The Achieving Society, mengatakan bahwa paling tidak dibutuhkan 2 persen pengusaha dari total jumlah penduduk agar sebuah negara menjadi makmur dan sejahtera. Jika mengacu perhitungan tersebut, berarti dari total 250 juta penduduk Indonesia, minimal harus ada 5 juta pengusaha untuk membangun negara ini dalam bidang ekonomi. 

Namun menurut saya, 2 persen bukanlah angka ideal. Sebagai negara yang besar, paling tidak Indonesia membutuhkan minimal 5 persen dari total populasinya, atau sekitar 12,5 juta orang. Sebagai perbandingan, jumlah pengusaha di Singapura 10 persen, Jepang 15 persen, China 16 persen dan Amerika Serikat 18 persen dari total penduduknya.

Kementerian Koperasi dan UKM mengeluarkan data tentang jumlah pengusaha Indonesia di tahun 2015 yang mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, total pengusaha di Indonesia berada di kisaran angka 1,5 persen (3,75 juta). Saya optimis angka ini akan terus tumbuh hingga mencapai 5 persen dalam kisaran waktu 5-10 tahun. Syaratnya, Indonesia bisa menaikkan tingkatan ease of doing business (kemudahan melakukan bisnis) ke level 50 besar dunia.

International Finance Corporation (IFC), anggota dari Bank Dunia, melansir laporan bertajuk Doing Business 2015. Data tersebut merangkum tentang kemudahan berbisnis di suatu negara yang terdiri dari berbagai faktor. Indonesia menempati posisi ke-114, naik 3 peringkat dari posisi ke-117 di tahun 2014. 

Tapi tentu, hasil ini tidaklah menggembirakan karena kita jauh tertinggal dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Singapura di urutan pertama, Malaysia di urutan ke-6, Thailand di urutan ke-18, Brunei Darussalam di urutan ke-59, Vietnam di urutan ke-99 dan Filipina di urutan ke-108.

Faktor lingkungan juga berpengaruh dalam membentuk karakteristik anak untuk menjadi seorang pengusaha. Para orangtua selalu memberi nasihat yang sama bagi anak-anaknya, “Kamu harus rajin belajar ya, biar nanti kalau sudah besar bisa kerja di perusahaan yang bagus dan mendapat gaji yang besar.” Nasihat seperti ini akhirnya membentuk pola pikir sang anak untuk lebih memilih menjadi karyawan dibanding pengusaha.

Sistem pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan kreativitas dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan dengan baik. Kampus-kampus lebih banyak menciptakan para pencari kerja dibanding pembuat lapangan kerja. Setiap tahunnya, jumlah orang yang berbaris untuk mendapat pekerjaan selalu bertambah dari tahun sebelumnya.

Saya pribadi berpendapat bahwa justru pendidikan adalah sektor terpenting dalam menciptakan para pengusaha baru. Memang betul bahwa ada cerita tentang para pengusaha sukses yang tidak lulus kuliah atau bahkan drop out dari kampus, seperti Bill Gates, Steve Jobs, Michael Dell, Mark Zuckerberg, dll.

Namun yang tidak diketahui oleh orang banyak, ternyata mereka sudah melatih dirinya di luar kampus untuk menjadi seorang pengusaha handal. Mereka sudah membangun jejaring dari usia yang sangat muda dengan orang-orang yang berpotensi akan bekerjasama di masa depan. Sehingga, mereka bukan belajar di sekolah formal, melainkan sekolah jalanan.

Tentu tidak semua orang bisa seperti itu, maka dari itu dibutuhkan sistem pendidikan tentang kewirausahaan di bangku sekolah agar setiap anak sudah disiapkan menjadi pengusaha sejak dini. Hal ini penting karena seorang pengusaha tidak dibuat dalam waktu sekejap, melainkan melalui proses yang panjang sejak kecil. 

Apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan Anda akan membuat perbedaan yang sangat berarti dalam tahapan berikutnya. 

Penulis : Muhammad Assad
Sumber : bisniskeuangan.kompas.com, Rabu, 4 Februari 2015, 07:08 WIB.

Perbedaan Antara Pengusaha Yang Sesungguhnya dan Mereka Yang Masih Sekadar Bercita-cita.

tidak hanya berorientasi pada uang

Sukses menjadi seorang wirausahawan kini menjadi mimpi banyak orang. Tidak heran, profesi sebagai seorang pengusaha memang dianggap menjanjikan banyak keuntungan. Tidak sedikit orang yang bermimpi, berharap suatu hari nanti bisa punya perusahaan yang besar dengan pendapatan nan menjanjikan.

Namun, mewujudkan mimpi demi menjadi pengusaha juga bukan hal mudah. Kasarnya, kamu harus rela “membanting tulang” untuk mencapai cita-cita itu. Akan banyak tantangan yang menghadang jalanmu sebelum mencapai kesuksesan dan sah disebut sebagai seorang entrepreneur jempolan.

Agar niatmu jadi pengusaha semakin terpacu, kamu harus tahu perbedaan antara mereka yang sudah sukses jadi pengusaha dan mereka yang masih sekadar bercita-cita saja. Simak, yuk!

  • Pengusaha yang Sesungguhnya Tak Suka Membusungkan Dada. Mereka yang Sekadar Bercita-cita Bisa Jadi Bersikap Semena-mena

Punya usaha besar yang telah dikenal oleh banyak orang tentu membuat orang rasa bangga datang. Hal tersebut menjadi wajar mengingat untuk sampai di titik itu sudah banyak kesulitan yang berhasil dia takhlukkan. Limpahan materi juga menjadi alasan tambahan, mengapa sebenarnya mereka pantas untuk membusungkan dada. Keberhasilan yang kini telah diraih menjadi sebuah capaian yang memang pantas untuk membuatnya berbangga.

Meskipun punya prestasi yang pantas untuk dibanggakan, hal tersebut tak lantas membuat mereka menjadi pribadi yang sombong secara berlebihan. Rasa rendah hati dan terus mau belajar menjadi ciri khas dari sikap mereka. Sikap ini jugalah yang pada akhirnya mengantar mereka ke puncak keberhasilan yang lebih tinggi lagi.

  • Seorang Pengusaha Akan Berusaha Optimis. Mereka Tak Mudah Menangis Sekalipun Perjuangan Mencapai Kesuksesan Terasa Tragis

Menjadi seorang pengusaha bukanlah hal yang mudah dilakukan. Berbagai kesulitan, tantangan, bahkan hambatan mungkin saja menghampirimu dalam perjalanan menuju kesuksesan. Mulai dari pengalaman ditipu orang, dimaki-maki pelanggan, uang dibawa kabur vendor, serta berbagai kesulitan lainnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang pengusaha.

Namun meski harus menjalani hari-hari yang sulit, bukan berarti mereka akan berhenti begitu saja. Berbagai tantangan tersebut justru mencambuk mereka untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Alih-alih merasa bahwa sudah tidak ada lagi harapan saat kesulitan datang, mereka justru sibuk menemukan beribu kesempatan. Jiwa mereka selalu dipenuhi oleh energi positif yang membuat mereka selalu mampu bangkit lagi ketika tantangan datang menguji.

  • Para Pengusaha Percaya Bahwa Kegagalan Tak Perlu Dirisaukan. Mereka yang Sekadar Bercita-cita Justru Memilih Mundur Lantaran Ketakutan

Jika kamu pernah mendengar saran bahwa seorang pengusaha yang baik itu berani mengambil resiko maka  saran itu harus kamu dengar. Alasannya adalah karena dengan keberanian kamu memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan diharapkan. Sementara sikap ‘bermain aman’ hanya akan membuatmu berada pada satu fase yang itu-itu saja.

Berani mengambil resiko di sini bukan berarti dilakukan dengan tanpa perhitungan. Kamu tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek yang dibutuhkan. Hanya yang menjadi penekanan di sini adalah bahwa mereka yang sudah berhasil mencatatkan namanya sebagai pengusaha sukses adalah golongan orang berani mengambil resiko. Kegagalan tidak dipandang sebagai sosok menakutkan yang harus mati-matian dihindari. Sebaliknya kegagalan tersebut justru dijadikan pengalaman belajar yang membuat mereka bisa lebih baik lagi ke depannya.

  • Seseorang yang Berjiwa Pengusaha Percaya Bahwa Uang Bukanlah Segalanya. Dia Tak Mudah Terbuai Harta Atau Hasrat Menjadi Kaya Raya

Seorang pengusaha sejati tidak hanya berorientasi pada besaran nominal uang yang diterima saja. Menghasilkan produk atau jasa yang berguna bagi banyak orang juga menjadi cita-cita jangka panjang mereka. Itu artinya, ketika menghasilkan produk atau jasa tak lantas membuat mereka melupakan manfaat produknya bagi orang lain. Tidak hanya berjuang membuat barang atau jasa yang ditawarkan laku dibeli tapi juga memikirkan manfaat dari barang dagangan itu sendiri.

Dengan menghasilkan barang yang berguna bagi banyak orang maka hal tersebut akan membuat banyak orang membuthkan produk itu dalam jangka waktu yang lama. Pada intinya bisnis yang dirintis tidak selalu soal besaran jumlah uang yang didapat tapi juga bagaimana menghasilkan barang yang memberikan banyak manfaat.

  • Mereka Tahu Bahwa Sukses Tak Bisa Datang Dalam Semalam. Mereka Akan Bekerja Keras Tanpa Mau Peduli Siang dan Malam

Kamu keliru jika membayangkan bahwa hidup seorang pengusaha selalu dikelilingi dengan berbagai kemudahan. Namun, jadi pengusaha bukannya bersenang-senang, justru bekerja mati-matian demi mencapai kesuksesan. Kerja keras yang dilakukan memang belum tentu terlihat, namun bukan berarti mereka bisa berleha-leha ketika memperjuangkan keberhasilan.

Saat banyak karyawan biasa tertidur di malam hari untuk melepas rasa lelah setelah seharian bekerja, para pengusaha sukses bisa jadi sibuk memikirkan hal apa lagi yang bisa dilakukan untuk memajukan usaha mereka. Sekali pun memiliki title ‘bos’ hal tersebut tak lantas membuat mereka bekerja lebih ringan dari yang lainnya. Kesadaran akan pentingnya bekerja keras demi mencapai keberhasilan itulah yang membuat mereka tak lelah untuk terus berusaha.

  • Dia yang Sekadar Ingin Jadi Pengusaha Hanya Akan Menunggu Kesempatan Datang. Pengusaha yang Sesungguhnya Justru Berjuang Menciptakan Peluang

Para pengusaha sukses tahu betul untuk menggapai keberhasilan mereka tidak harus menunggu sebuah kesempatan datang. Sebaliknya kesempatan itu harus diciptakan agar segera datang. Hal tersebut membuat mereka seringkali dilihat sebagai orang yang selalu beruntung. Padahal, keberuntungan tersebut tidak datang begitu saja melainkan suatu hal yang senantiasa diusahakan.

Kesadaran akan pentingnya mengejar kesempatan membuat mereka bertumbuh jadi pribadi yang enggan menyerah sekalipun berhadapan dengan kebuntuan. Selalu mencari jalan keluar adalah moto hidup yang tidak pernah dilupakan. Mereka tahu betul bahwa memiliki karakter sebagai pekerja keras adalah modal utama guna mencapai keberhasilan dalam angannya.

  • Jaringan Pertemanan Akan Dibuat Seluas-luasnya. Seorang Pengusaha Percaya, Pergaulan yang Itu-Itu Saja Tak Bisa Membawa Mereka Berjaya

Bercita-cita menjadi pengusaha sukses namun enggan memperluas pertemanan? Yakinlah hal tersebut justru membuatmu sulit menggapai keberhasilan. Dengan membuat jaringan pertemanan yang lebar akan memungkinkan kamu bertemu dengan banyak orang yang potensial untuk diajak bekerja sama membangun usaha.

Hal ini juga bisa membuatmu belajar beragam ilmu dari orang yang kamu temui nantinya. Luasnya jaringan pertemanan menjadi modal penting untuk seorang pengusaha menjaga kelangsungan usahanya. Dengan menjaga kualitas pertemanan tersebut juga membuat pengusaha bisa belajar lebih banyak hal baru.

Nah, gimana? 
Sudahkah kamu jadi pengusaha yang sesungguhnya, atau saat ini masih sekadar bercita-cita saja? Apapun itu, jangan mudah menyerah dalam perjalanan menuju cita-citamu dan teruslah berusaha demi merawat mimpi-mimpimu!

Penulis : Priscilla Silaen 
Sumber : www.hipwee.com, 27 Pebruari 2015.

Inilah Perbedaan Mentalitas Pengusaha Vs Karyawan !


Saat memutuskan ingin berwirausaha, apakah Anda sudah berpikir dan bertindak layaknya seorang pengusaha? Atau jangan-jangan hanya tampilan luar saja yang ingin terlihat sebagai seorang pengusaha tapi cara berpikir dan bertindak Anda masih seperti seorang karyawan?

Pertama, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa menjadi pengusaha atau karyawan itu sama baiknya. Ini adalah sebuah pilihan dan tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu tidak semua orang cocok menjadi pengusaha dan begitu juga tidak semua orang cocok menjadi karyawan. 

Ada orang-orang yang senang dengan ketidakpastian, suka mencoba sesuatu hal yang baru dan bersemangat bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tipe seperti ini cocok menjadi pengusaha. Ada juga mereka yang senang dengan kepastian, melakukan pekerjaan sesuai aturan perusahaan dan lebih senang berada di belakang layar. Tipe seperti ini cocok menjadi karyawan. 

Lalu mana yang lebih baik? 
Bagi saya pribadi dua-duanya baik, karena setiap orang bisa menjadi pengusaha sukses atau menjadi karyawan teladan.


Menjadi pengusaha itu tidak semudah seperti apa yang terlihat. Jangan pernah berpikir bahwa pengusaha itu hidupnya pasti enak terus. Salah besar! Seorang pengusaha harus mempunyai visi dan misi yang brilian, ide dan gagasan yang cemerlang, kemampuan manajemen yang baik, siap mengorbankan waktu bersama keluarga dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap para karyawan. 

Anggapan bahwa pengusaha itu selalu hidup enak terjadi karena biasanya di seminar-seminar kewirausahaan, para pembicara sering menampilkan tokoh-tokoh pengusaha sukses yang bergaya hidup mewah dan bergelimangan harta. 

Namun apakah Anda tahu bagaimana awal mula mereka merintis bisnis? 
Apakah Anda tahu apa saja yang sudah mereka korbankan untuk mencapai kesuksesan itu? 

Semua pencapaian yang telah diraih oleh para pengusaha sukses pastinya tidak mudah. Banyak orang hanya melihat dari apa yang telah diraih oleh para pengusaha tersebut: sukses, terkenal dan memiliki uang berlimpah. Tapi di belakang itu, sesungguhnya kerja keras, keringat dan air mata mewarnai perjalanan hidupnya. 

Media pun lebih tertarik menampilkan sosok-sosok inspiratif yang sudah sukses dan akhirnya masyarakat pun banyak yang menilai salah tentang hal tersebut. Seolah-olah menjadi pengusaha itu pasti berhasil, kaya raya dan hidup bergelimang harta. Nyatanya, tidak demikian adanya.

Saya merasakan betul bagaimana jatuh bangunnya membangun sebuah usaha. Saya harus melakukan penghematan di masa-masa awal, bahkan tidak jarang harus berkorban untuk karyawan dan kelangsungan usaha. Waktu awal saya mendirikan Rayyan Capital di tahun 2012, saya dan partner (Edwin Rahmat) tidak mendapatkan gaji selama setahun. Beberapa kali kami sampai harus memutar otak bagaimana tetap bisa membayar gaji karyawan meskipun tidak ada pemasukan sama sekali.

Baru di tahun kedua kami mulai mendapat keuntungan dari usaha yang dijalankan dan bisa menggaji diri sendiri. Itupun setelah para karyawan mendapatkan haknya. Kami menikmati masa-masa itu karena yakin bahwa ini adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan. Saya bilang ke Edwyn waktu itu, “We are building our own empire. Keep working hard and be patient.”

Kami harus mengencangkan ikat pinggang di masa-masa awal dengan tujuan untuk mengembangkan bisnis menjadi lebih besar lagi. Kami tidak berpikir bahwa saat sudah mendapat passive income, itulah waktunya untuk berhura-hura menghabiskan uang. Karena target kami adalah mengubah passive income menjadi massive passive income! Baru setelah itu kami bisa dengan tenang menikmatinya.

Demikianlah adanya, bahwa perjuangan menuju kesuksesan itu tidak mudah dan penuh jalan terjal. Di balik 10 pengusaha sukses negeri ini, ada 100 pengusaha lain yang tidak pernah berhasil dalam menjalankan usahanya. Di belakang mereka, ada lagi 100 pengusaha yang belum mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya. Di belakang mereka ada lagi 100 pengusaha lainnya dengan proposal bisnis yang belum selesai dan tertutup debu di laci. Dan di balik setiap dari mereka ada 100 orang yang bermimpi suatu hari dapat menjadi seorang pengusaha.

Hal-hal seperti inilah yang salah dipahami oleh kebanyakan mereka yang ingin terjun dan mulai berwirausaha. Para calon pengusaha merasa bahwa kesuksesan itu pasti sudah ada di depan mata dengan ilmu dan ketrampilan yang seadanya. Ini ibarat berlayar menuju samudra tanpa membawa bekal yang cukup. Nekat bin keblinger!


Menjadi seorang pengusaha itu harus selalu siap untuk mengelola risiko, kapanpun dan dimanapun. Dalam kondisi sesulit apapun, Anda harus mampu bertahan. Jangan sampai baru gagal sekali sudah menyerah, baru jatuh sekali sudah kapok. Karena itu, jangan pernah bermimpi menjadi seorang pengusaha sukses jika tidak siap dengan segala risikonya. 
  • Siapkah Anda bekerja keras siang dan malam? 
  • Siapkah Anda mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga? 
  • Siapkah Anda menghadapi resiko yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya? 
  • Siapkah Anda untuk mengencangkan ikat pinggang dalam proses membangun kerajaan bisnis? 
  • Siapkah Anda meninggalkan comfort zone dan berjuang untuk mengejar mimpi?

Jika jawaban semuanya YA, maka Anda sudah siap menjadi seorang pengusaha!

Penulis : Muhammad Assad
Sumber : bisniskeuangan.kompas.com, Rabu, 18 Maret 2015, 06:17 WIB.

Sabtu, 14 Maret 2015

Anak di Bawah Usia 3 Tahun Juga Perlu Pendidikan !


Pendidikan untuk anak kerap kali ditujukan untuk mereka dengan rentang usia 4-6 tahun. Padahal, menurut penelitian, anak pada usia 0-3 tahun sudah butuh pendidikan. 

Penelitian tersebut mengatakan, usia pada rentang 0-3 tahun merupakan Golden Age. Dikatakan demikian karena 80 persen pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut, sedangkan penyempurna sebesar 20 persen terbentuk pada masa pendidikan di atas usia tersebut. 

"Lalu kenapa di usia emas tersebut, pendidikan tidak diprioritaskan. Terlebih bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan kumuh perkotaan. Jangankan pada usia segitu, pendidikan selalu terbatas biaya dan waktu," kata Andrew Collien, salah satu mahasiswa Binus Business School, Selasa, (10/3/2015). 

Hal itulah yang kemudian membawa Andrew beserta tiga teman lainnya, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, serta Inez Rarasati mewakili Binus University International untuk menyampaikan solusi atas pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai ini dalam ajang 'Hult Prize'. 

Hult Prize adalah ajang kompetisi tahunan skala internasional untuk mencari solusi terbaik dari berbagai masalah kesejahteraan sosial dunia. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Early Childhood Education for Urban Slum”.


Urban Slum

Menurut Andrew dan timnya, pendidikan tak harus selalu berbentuk media kelas dan guru. Pendidikan bisa diterapkan dimana dan oleh siapa saja. Dalam hal ini orangtua memiliki peran penting. 

Pengaruh minimnya pendidikan anak usia dini di kawasan kumuh perkotaan adalah timbulnya fenomena word gap, yaitu kemampuan mereka menyimpan koleksi kata-kata dalam otak. Akibatnya akan jelas terlihat saat mereka berada di sekolah formal.

"Sekolah formal itu tempat mereka berbaur dengan anak-anak lain yang sudah mendapat pendidikan saat usia dini," ungkapnya.

Menurut dia, bila pendidikan sudah disadari harus diberlakukan sedini mungkin, bukan hanya fenomena word gap dapat dipecahkan, melainkan juga mereduksi angka kejahatan di masa datang. 

Berdasarkan data Hult Prize, ada 112 juta anak berusia 0 sampai 6 tahun yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan tidak mendapatkan pendidikan layak. Untuk itulah, solusi yang ditawarkan oleh Andrew dan timnya adalah Star(t) Educational Kit berupa kartu bergambar dengan menyasar usia anak 1 sampai 3 tahun.

Andrew Collien, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, dan Inez Rarasati mewakili BINUS University International untuk mengikuti kompetisi internasional Hult Prize 2015

"Picture Card menjadi media yang mudah dipelajari oleh anak-anak, khususnya mereka dengan usia 0-3 tahun. Untuk pemasarannya juga mudah. Rencananya, dalam distribusinya kami akan menggaet provider telekomunikasi yang memproduksi voucher fisik," ujar Andrew. \

Andrew menambahka, Picture Card tersebutkemudian dikombinasikan dengan fungsi voucher fisik. Mereka yang membeli pulsa bisa menjadikan voucher tersebut sebagai media pembelajaran bagi anak-anak usia dini di sekitar mereka. Pada picture card berbentuk voucher itu berisi gambar dan sedikit cerita yang mendeskripsikan gambar tersebut.

Picture Card menjadi media pembelajaran untuk anak usia 1-3 tahun. Dipakai sebagai solusi permasalahan kesejahteraan sosial kompetisi internasional.

'Ukurannya sama dengan voucher fisik, tetapi dalam bentuk lipatan. Bila dibuka akan menjadi satu gambar utuh yang besar," terang Andrew.

Dengan solusi seperti ini, tidak ada alasan untuk tidak memberi pendidikan pada anak usia dini. Seperti diketahui, sebagian banyak orang termasuk pada masyarakat kawasan kumuh perkotaan, ponsel sudah seperti kebutuhan utama. 

Harga pulsa fisik yang ekonomis tentu tidak sebesar biaya pendidikan yang selalu dianggap memberatkan. Untuk rumusan tersebut, Andrew dan teman-temannya melakukan riset di tiga kawasan, yaitu Senayan, Cinere, dan Bandung.

Tahun ini, pada kompetisi Hult Prize yang puncaknya diadakan pada 13-14 Maret 2015 di Shanghai, Andrew bersama teman-temannya maju sebagai salah satu tim dengan nama "Star(t) Team" didampingi oleh pelatih, Frans Bona Simanjuntak. Mereka akan berkompetisi dengan berpuluh-puluh tim dari 40 universitas lainnya dalam satu regional. Tim terbaik akan dikarantina di Boston bersama tim terbaik lain dari regional berbeda. 

Penulis : Sri Noviyanti
Editor : Latief
Sumber : edukasi.kompas.com, Kamis, 12 Maret 2015, 19:49 WIB.

Jumat, 13 Februari 2015

10 Tips Sederhana Untuk Mendidik Anak Menjadi Pengusaha Sejak Dini


Menjadi pengusaha bukan hanya sekedar pilihan hidup semata, tapi jiwa kewirusahaan sangatlah penting dalam membentuk kepribadian yang tangguh. 

Untuk itu menjadi pengusaha haruslah dibiasan dan dilatih sejak usia dini.Ada sepuluh poin tentang bagaimana cara mengembangkan jiwa bisnis kepada anak.
  1. Pertama, ajarkan anak anda untuk mempunyai target-target tertentu dan ajarkan mereka bagaimana cara mencapainya. Permainan yang bisa dilakukan bersama anak anda adalah dengan cara mengajak anak untuk menuliskan 10 keinginan mereka. Kemudian dari 10 keinginan itu, ajaklah anak untuk berpikir, keinginan mana yang paling bisa membawa manfaat terbesar bagi hidup mereka. Lalu jadikan keinginan itu menjadi suatu fokus yang harus dicapai. Langkah berikutnya adalah berikan langkah-langkah terperinci kepada mereka, supaya mereka mengetahui cara untuk mencapai target tersebut. Tidak lupa untuk selalu memberikan pujian dan motivasi jika mereka berhasil melakukan satu tahap.
  2. Kedua, ajarkan anak untuk bisa melihat peluang. Banyak orang tidak mendayagunakan potensi yang ada pada diri mereka, karena mereka kurang bisa melihat peluang disekitarnya. Karena dari itu, sangatlah penting untuk mengajarkan anak untuk melihat potensi dan peluang yang ada pada diri mereka dan disekitar mereka. Bagaimana caranya? Tanyakan pada mereka tentang hal-hal kecil yang terkadang mengganggu diri mereka. Sebagai contoh, sebagian anak merasa kesal jika mereka tidak mampu untuk mengambil barang dari tempat yang tinggi. Kemudian ajaklah mereka untuk berdiskusi bagaimana cara memecahkan masalah tersebut. Hal ini akan mengajarkan pada mereka untuk membuat solusi dan akan memacu mereka untuk mengungkapkan ide mereka.
  3. Ketiga, ajarkan anak untuk belajar berjualan. Ilmu untuk berjualan bukan hanya harus dimiliki oleh seorang pengusaha, tapi disegala bidang karir. Karena itu ajarkan anak anda untuk berjualan, karena dengan berjualan, sang anak tidak malu untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Bagaimana cara mengajarkannya? Ajaklah anak untuk berjualan mainan-mainan yang telah tidak terpakai dirumah, atau buku-buku bekas. Biarkan mereka untuk menentukan harga jual dari barang tersebut dan bantu mereka saat transaksi penjualan berhasil seperti menghitung uang kembalian, membungkus produk yang berhasil dijual dan berterimakasih kepada pembeli.
  4. Keempat, ajarkan anak untuk mengelola keuangan. Pengelolaan keuangan sangatlah jarang diajarkan disekolah, karena itu sebagai orang tua kita bisa membatu mereka dengan cara ajarkan mereka berjualan atau membantu anda berjualan. Kemudian ajarkan bahwa uang yang didapat bisa menghasilkan yang lebih banyak dengan cara memutar uang tersebut untuk berdagang berikutnya. Tidak lupa untuk mengajarkan mereka untuk bersedekah dari setiap penghasilan yang mereka dapatkan.
  5. Kelima, ajarkan tentang marketing. Cara marketing atau memasarkan produk sangatlah penting. Tanpa metode pemasaran yang baik, maka suatu usaha bisa mengalami kegagalan. Lalu bagaimana caranya? Ajak anak anda untuk melihat papan, poster atau iklan tentang suatu produk yang sama tapi dari beberapa iklan perusahaan yang berbeda-beda. Lalu tanyakan pada mereka, mana iklan yang lebih bagus dan kenapa yang satu bagus dan yang lain kurang bagus. Anda akan sangat terkejut dengan jawaban-jawaban mereka yang kadang tidak terduga dan bahkan sangat menggelitik.
  6. Keenam, ajarkan anak untuk kegagalan. Di sekolah kita selalu diajarkan bahwa kegagalan itu adalah suatu bencana yang besar, tapi di dunia bisnis, kegagalan bisa menjadi guru dan motivasi untuk perubahan yang sangat bagus. Jika anak anda gagal, maka motivasilah mereka untuk belajar dari kesalahan dan untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut.
  7. Ketujuh, ajarkan anak komunikasi yang efektif. Anak jaman sekarang terkadang sangat takut untuk berkomunikasi secara tatap muka, karena mereka sangat terbiasa dengan sms dan jejaring sosial. Salah satu penunjang bisnis yang penting adalah cara kita berkomunikasi dan bernegosiasi. Cara mengajarkannya adalah dengan bermain pembeli dan penjual. Pertama contohkan anda sebagai penjual dan anak anda sebagai pembeli. Contohkan kepada mereka bagaimana cara untuk menghadapi pembeli dengan baik. Kemudian gantilah peran tersebut, sekarang anda menjadi pembeli dan anak menjadi penjual. Dengan ini anak anda terlatih untuk berkomunikasi dan berani menanggapi kemauan orang lain.
  8. Kedelapan, ajarkan anak mandiri dan percaya diri. Pastinya kita ingin anak kita menjadi anak yang mandiri dan sukses. Lalu bagaimana caranya? Setiap kali anak anda meminta mainan baru, ajaklah anak anda berpikir bagaimana cara menghasilkan uang agar bisa membeli barang tersebut. Hal ini akan meningkatkan daya kritis dan daya kreatifitas mereka.
  9. Kesembilan, ajarkan anak untuk saling tolong-menolong. Buat apa berhasil dalam suatu bisnis jika tidak bermanfaat bagi orang lain? Sangatlah penting untuk mengajarkan anak anda untuk bersedekah, sehingga anak tidak menjadi serakah dan egois. Ajak mereka untuk memasukkan uang ke celengan – celengan masjid setiap kali mereka mendapatkan uang dari berjualan ataupun uang jajan dari anda.
  10. Kesepuluh, ajarkan anak kepemimpinan. Di sekolah anak diajarkan untuk selalu mengikuti peraturan yang ada. Mereka diprogram untuk belajar dan menghapal dan bukan untuk menjadi orang yang berpikir secara mandiri. Ilmu sebagai pengusaha mengajarkan anak untuk berpikir di luar kotak dan menciptakan solusi yang unik dan lebih baik. Bagaimana cara mengajarkannya? Beri kesempatan kepada anak anda untuk memimpin temannya pada saat bermain. Ajarkan mereka untuk berbicara di depan keluarga saat makan malam atau acara keluarga bersama.


Penulis : Dhia Prekasha Yoedha
Sumber : http://www.sekolahpengusaha.us, 6 November 2013
Valentino Dinsi |  06, 2013

Jumat, 19 Desember 2014

Para Ibu yang Sibuk Dengan Ponsel Hasilkan Anak Yang Kurang Perhatian.


Sebuah studi terbaru menemukan bahwa jika seorang ibu ingin memiliki kedekatan dengan anak-anaknya, maka ia harus menjauhkan perangkat ponsel pintar dan gadget lainnya saat makan bersama sang buah hati. 

Para peneliti menemukan, para ibu yang mudah terdistraksi dengan ponsel saat makan bersama memiliki kedekatan yang buruk dengan anak-anaknya.

Apa alasannya? 
Menurut dr Jenny Radesky, peneliti dan instruktur klinis di Boston University School of Medicine, Amerika Serikat, hubungan dan kedekatan yang seharusnya dibangun antara orang tua dan anak saat makan cenderung berkurang, gara-gara perhatian sang ibu lebih terarah pada ponsel dan gadget. 

Secara umum, tim peneliti yang dipimpin oleh Radesky menemukan bahwa penggunaan ponsel dan perangkat lainnya selama waktu makan berpengaruh terhadap 20 persen berkurangnya interaksi verbal antara orang tua dan anak. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan hilangnya interaksi nonverbal antara orang tua dan anak sebesar 30 persen.

Studi serupa yang baru saja dipublikasikan di jurnal Academic Pediatrics menemukan bahwa para ibu yang frekuensi penggunaan ponselnya sangat tinggi selama waktu makan juga tidak memberikan banyak nasihat dan motivasi kepada anak-anaknya. Mengenai hal ini, para peneliti merasa tidak terkejut. 

"Temuan dalam studi ini menunjukkan apa yang kami lihat adalah sebuah kebenaran. Setiap orang yang berinteraksi dan terhubung dengan perangkat elektronik secara berlebihan akan melupakan hubungan antar manusia pada waktu yang nyata dan sebenarnya," ujar dr Ron Marino, direktur pediatrik di Winthrop-University Hospital, Mineola, New York, Amerika Serikat.

Lebih lanjut, dr Marino menjelaskan, sudah sepatutnya anak-anak merasakan kehadiran orang tuanya, baik secara fisik maupun secara verbal. Ketika perhatian sang ibu terpecah atau malah terfokus pada media dan perangkat elektronik, maka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan sosial akan berkurang atau hilang. 


Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Syafrina Syaaf
Sumber : Psychology Today, dikutip dari http://female.kompas.com/, Kamis, 18 Desember 2014, 16:52 WIB.

Kamis, 11 Desember 2014

Inilah yang Dihadapi Murid dengan Kurikulum 2013 !


Pengalaman baru dihadapi para murid ketika mulai menjajaki Kurikulum 2013 yang menggantikan Kurikulum 2006. Melalui kurikulum baru itu, murid dituntut untuk lebih aktif di kelas dibandingkan dengan guru. Khusus wilayah Jakarta Selatan, hampir seluruh sekolah telah menerapkan Kurikulum 2013. 

Ada beberapa perbedaan yang dialami oleh murid pada kurikulum baru dengan yang lama. Di antaranya, jam sekolah yang lebih lama dan juga pola belajar dengan metode diskusi. Yudi, Wakil Kepala Sekolah SMK Putra Satria di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengakui adanya keluhan dari siswanya mengenai pola baru di Kurikulum 2013. 

"Misalnya buku yang lebih tebal, lalu kok banyak tugasnya di kurikulum ini. Karena setiap kali guru memang harus membuat tugas. (Tapi) keluhan biasa," kata Yudi, saat ditemui di acara workshop mengenai tawuran pelajar, di kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rabu (10/12/2014). 

Peserta didik, lanjutnya, dituntut untuk lebih aktif. Dalam kurikulum lama, guru lebih banyak berbicara. Kini, murid yang lebih banyak bicara. Menurut Yudi, pola belajar siswanya kini bermodel diskusi dengan membentuk kelompok di kelas. Siswa nanti maju untuk berbicara atau presentasi di depan kelas. Hanya saja, untuk mata pelajaran matematika, pola diskusi menjadi rumit. 

"Murid nanya kalau matematika gimana diskusi Pak? Memang tidak bisa untuk diskusi," ujar Yudi. 

Selain itu, pada kurikulum ini, sebut Yudi, jam belajar siswa menjadi bertambah dua jam. Jam belajar di sekolah, yang sebelumnya berakhir pukul 12.30, menjadi pukul 14.30.

Sementara itu, Sabari, Kepala Sekolah SMK PGRI 14 di Jakarta Selatan mengatakan, kurikulum baru belum berjalan maksimal lantaran perilaku belajar siswa. Di sekolahnya, ia menyatakan minat baca murid-muridnya masih rendah. Padahal, murid dituntut untuk menguasai materi.

"Saya perhatikan kayaknya daya juang yang masih rendah, jadi minat bacanya rendah. Walaupun sudah ada buku. Kalau anak ini daya juang rendah, enggak mikirin. Cuek aja. Jadi cuma cari sertifikat, enggak cari ilmu," ujar Sabari. 

Meski demikian, baik Yudi dan Sabari menyatakan, Kurikulum 2013 amat baik untuk anak. Cara belajarnya membuat murid untuk lebih aktif. 

"Metode bagus, anak memang ditugaskan untuk mencari tahu," kata Yudi. "Ini memang sebenarnya bagus. Sekarang kan bukan guru ceramah. Tapi anak harus diaktifkan," ujar Sabari.

Penulis : Robertus Belarminus
Editor : Hindra Liauw 
Sumber : http://edukasi.kompas.com/, Rabu, 10 Desember 2014,  13:38 WIB.
Dikutip dari : http://pustakadigitalindonesia.blogspot.com/, 10 Desember 2014.

Inilah 10 Hal Fundamental Yang Harus di Revisi Dalam Kurikulum 2013 !


Hasil revisi Kurikulum 2013 kemungkinan akan segera diumumkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayan Anies Baswedan.

Jika revisi hanya mengacu persoalan teknis-implementatif, revisi tak akan berguna, sebab pokok persoalan sesungguhnya lebih pada substansi, bukan isi materi atau implementasi. Inilah yang harus direvisi. Revisi harus menyentuh hal-hal yang fundamental yang selama ini jadi persoalan serius dalam Kurikulum 2013.

Tiga langkah perlu dilakukan:  
  • Pertama, merevisi landasan yuridis pelaksanaan Kurikulum 2013, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 32 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan yang merevisi PP No 19 Tahun 2005. Revisi PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi  peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) yang jadi dasar pelaksanaan Kurikulum Pendidikan.
  • Kedua, revisi atas PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi atas beberapa landasan konseptual filosofis pedagogis Kurikulum 2013 yang selama ini dianggap bermasalah, seperti konsep Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Silabus, tematik integratif, desain buku ajar, dan sistem evaluasi dan penilaian.
  • Ketiga, revisi pendekatan praktis dalam metode pelatihan guru terkait substansi, isi, dan keterampilan yang dibutuhkan.

Fokus revisi

Ada 10 fokus revisi yang harus dilakukan tim revisi bentukan Anies. Tanpa menyentuh 10 hal fundamental ini, revisi tak akan bermakna karena hanya akan melanjutkan sebuah implementasi kurikulum yang dasar pijakannya sudah keliru sejak awal. 

  • Pertama, revisi konsep Kompetensi Inti. 
Kompetensi Inti dipahami sebagai ”tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik”.

Kompetensi Inti yang dipahami sekadar menjadi sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan sangatlah meredusir kekayaan, hakikat, dan proses belajar itu sendiri. Apalagi jika kompetensi spiritual hanya dipahami sebagai ”menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya”, yang berlaku sama untuk seluruh jenjang dari tingkat dasar sampai menengah,  sedangkan sikap hanya mengacu pada perilaku tertentu yang sifatnya sangat terbatas. Kurikulum 2013 telah memasukkan sebuah konsep dasar yang meredusir kekayaan kompleksitas proses belajar yang sesungguhnya.

Inilah yang perlu direvisi. Revisi terutama justru mengembalikan hakikat proses belajar yang melampaui sekadar pengembangan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi Inti harus didesain secara utuh dan komprehensif, tak parsial dengan membagi-baginya menjadi komponen-komponen yang akan diselaraskan dalam proses belajar.

  • Kedua, pengarusutamaan pada spiritualisme. 
Kurikulum 2013, dengan memagari proses pembelajaran pada kompetensi inti, terutama pada sikap spiritual, telah menghasilkan spiritualisasi proses pembelajaran. Proses belajar diarahkan semuanya pada praksis “penghayatan dan pengamalan agama yang dianut siswa”. 

Ini sebuah pendekatan kurikulum yang sangat absurd, memiskinkan kekayaan pengalaman belajar, dan mendiskriminasi siswa yang agamanya tidak resmi diakui oleh pemerintah. Akibatnya, muncul definisi Kompetensi Dasar (KD) yang tak masuk akal, aneh-aneh, dan lucu.

Pada pelajaran Matematika kelas X, misalnya, definisi kompetensi inti dan dasar ternyata sama, yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Ini pelajaran matematika atau pelajaran agama? Pendekatan spiritualis seperti inilah yang harus direvisi menjadi pendekatan pembelajaran yang lebih rasional, mengedepankan akal budi dan nilai-nilai universal yang bisa dipelajari semua orang.

  • Ketiga, pendidikan agama dan budi pekerti. 
Kurikulum 2013 telah memperkenalkan sebuah konsep yang sangat keliru tentang kaitan antara pendidikan agama dan budi pekerti. Ketatnya jumlah jam belajar telah memaksa pemerintah menggabungkan pendidikan agama dengan budi pekerti. Pemerintah salah memahami seolah-olah agama-agama mengajarkan pendidikan budi pekerti yang berbeda.

Padahal, agama memiliki domain ajaran yang berbeda dengan pendidikan budi pekerti. Pelajaran agama bersifat eksklusif, dogmatis, ritual, sedangkan pendidikan budi pekerti bersifat inklusif, terbuka, dan mengacu pada praksis kehidupan bersama secara bijak, adil, saling menghormati.

Apabila pendidikan agama masuk ranah kepercayaan yang sifatnya sangat subyektif, pendidikan budi pekerti berada pada ranah moral yang memiliki kodifikasi nilai universal, berupa nilai-nilai moral kemanusiaan. Mengintegrasikan pendidikan budi pekerti pada pendidikan agama jelas akan kian menyegregasi anak-anak Indonesia berdasarkan kelompok agama dan ini akan mereduksi pengalaman mereka akan keragaman dan kebersamaan.

  • Keempat, revisi silabus. 
Silabus bagian tak terpisahkan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Silabus harus direvisi karena telah terjadi logika terbalik. Kurikulum 2013 ternyata membuat silabus berdasarkan buku yang sudah dicetak, menyesuaikan dan menambahkan apa yang kurang. 

Permendibud No 57 Tahun 2014 menjelaskan adanya tiga pola format silabus: 
  1. KD diberi keterangan:  KD buku, KD silabus, KD buku dan silabus, KD buku tetapi tidak sesuai permendikbud. 
  2. KD diberi keterangan: ada di buku, tidak ada di buku. 
  3. KD Dasar tanpa keterangan. Keterangan ini mengindikasikan bahwa silabus dibuat berdasarkan buku, dan bukan buku berdasarkan silabus. 
Logika terbalik ini membuat kualitas buku kurikulum dipertanyakan.

  • Kelima, pendekatan tematik integratif berubah menjadi materi pelajaran. 
Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar mengubah seluruh proses pembelajaran dalam format tematik integratifTematik integratif sesungguhnya sebuah metode belajarbukan mata pelajaran. 

Fokus pembelajaran semestinya tetap pada pengembangan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Fokus ini menjadi hilang dan siswa lebih gemar mempelajari tema. Akibatnya, siswa hanya akan menghafalkan fragmen-fragmen tematis pembelajaran, tanpa mampu mengintegrasikan kaitan antara ilmu yang satu dan yang lain. Situasi ini diperparah dengan tidak adanya peta kompetensi dalam silabus.

  • Keenam, peta kompetensi dasar. 
Silabus dalam Kurikulum 2013 tidak menyertakan peta kompetensi dasar. Yang ada dalam buku kurikulum hanyalah jaringan kompetensi dasar. Akibatnya, beberapa kompetensi diajarkan berulang-ulang dalam tema-tema yang lain, sedangkan kompetensi yang lain sama sekali tidak dibahas. Ini dapat dimaklumi karena pada saat pembuat buku ajar mendesain buku, mereka tidak dilengkapi dengan silabus sehingga kompetensi yang dibuat hanya perkiraan penulis buku saja.

Tanpa adanya peta kompetensi, kita tak dapat mengetahui sejauh mana proses belajar siswa, dan apakah seluruh kompetensi keilmuan yang dibutuhkan telah terliput dalam keseluruhan tema pembelajaran. Akibat fatal dari absennya peta kompetensi ini adalah rangka-bangun keilmuan siswa sekolah dasar sangat rapuh.

  • Ketujuh, indikator pembelajaran. 
Tim revisi kurikulum harus merevisi silabus dengan menyertakan indikator pembelajaran. Tanpa adanya indikator pembelajaran yang lebih detail, proses pembelajaran tidak dapat dinilai dan dievaluasi

Kompetensi dasar yang ada saat ini masih terlalu umum, bahkan kompetensi dasar untuk Matematika kelas X untuk sikap spiritual sama dengan kompetensi dasar. Tanpa adanya indikator pembelajaran, seluruh proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 tidak dapat dievaluasi.

  • Kedelapan, model evaluasi dan penilaian. 
Tim revisi kurikulum harus merevisi model evaluasi pembelajaran baik secara mikro maupun makro. Penilaian yang bersifat mikro adalah evaluasi proses pembelajaran dalam kelas, dan yang makro adalah keseluruhan sistem evaluasi pendidikan nasional. Penilaian kompetensi sikap sangat bermasalah dan tidak realistis karena guru hanya akan disibukkan mengamati siswa agar dapat mengisi kolom penilaian.

Adapun secara makro, spirit pembelajaran dalam Kurikulum 2013 mewajibkan pemerintah menghapus sistem ujian nasional karena bertentangan dengan roh dalam Kurikulum 2013. Tetap mempertahankan ujian nasional merupakan sikap inkonsisten dan keengganan dalam merevolusi mental.

  • Kesembilan, model pelatihan guru harus diubah. 
Guru perlu dilatih untuk memiliki kekayaan dalam berbagai macam strategi dan pendekatan belajar, serta pendekatan dalam proses penilaian, melalui rubrik, portofolio, proyek, dan lain-lain. Fokus pada micro teaching, bukan pada paparan presentasi power point seperti terjadi selama ini.

  • Kesepuluh, desain buku pelajaran. 
Buku-buku pelajaran yang sudah dicetak harus dinyatakan sebagai salah satu referensi sumber pembelajaran saja karena kualitas buku Kurikulum 2013 dipertanyakan dari segi isi dan substansinya

Pemerintah perlu mendesain buku pelajaran dengan lebih baik dan menyertakan akademisi lintas ilmu agar dapat mendesain buku pelajaran yang baik dan bermanfaat, bukan menyerahkan kepada para penulis buku amatiran yang sekadar punya pengalaman mengajar.


Sepuluh hal fundamental di atas haruslah jadi fokus perhatian bagi tim revisi Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bermasalah bukan karena persoalan teknis, seperti pembagian dan cetak buku, melainkan secara substansial dan fundamental bermasalah. 

Jika sepuluh hal di atas tidak masuk dalam kajian dan hasil yang akan dilaporkan oleh tim revisi Kurikulum 2013, saya tidak melihat kesungguhan pemerintah dalam merevisi Kurikulum 2013. Ini berarti membiarkan masa depan anak Indonesia dalam sebuah proses pendidikan yang salah kaprah berkepanjangan.

Penulis : Doni Koesoema A
Alumnus Curriculum and Instruction Faculty, Boston College Lynch School of Education, Boston, AS
Sumber : http://edukasi.kompas.com/, Senin, 8 Desember 2014, 20:47 WIB.
Dikutip dari : http://pustakadigitalindonesia.blogspot.com/, 9 Desember 2014.