Kamis, 19 Maret 2015

Inilah Perbedaan Mentalitas Pengusaha Vs Karyawan !


Saat memutuskan ingin berwirausaha, apakah Anda sudah berpikir dan bertindak layaknya seorang pengusaha? Atau jangan-jangan hanya tampilan luar saja yang ingin terlihat sebagai seorang pengusaha tapi cara berpikir dan bertindak Anda masih seperti seorang karyawan?

Pertama, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa menjadi pengusaha atau karyawan itu sama baiknya. Ini adalah sebuah pilihan dan tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu tidak semua orang cocok menjadi pengusaha dan begitu juga tidak semua orang cocok menjadi karyawan. 

Ada orang-orang yang senang dengan ketidakpastian, suka mencoba sesuatu hal yang baru dan bersemangat bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tipe seperti ini cocok menjadi pengusaha. Ada juga mereka yang senang dengan kepastian, melakukan pekerjaan sesuai aturan perusahaan dan lebih senang berada di belakang layar. Tipe seperti ini cocok menjadi karyawan. 

Lalu mana yang lebih baik? 
Bagi saya pribadi dua-duanya baik, karena setiap orang bisa menjadi pengusaha sukses atau menjadi karyawan teladan.


Menjadi pengusaha itu tidak semudah seperti apa yang terlihat. Jangan pernah berpikir bahwa pengusaha itu hidupnya pasti enak terus. Salah besar! Seorang pengusaha harus mempunyai visi dan misi yang brilian, ide dan gagasan yang cemerlang, kemampuan manajemen yang baik, siap mengorbankan waktu bersama keluarga dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap para karyawan. 

Anggapan bahwa pengusaha itu selalu hidup enak terjadi karena biasanya di seminar-seminar kewirausahaan, para pembicara sering menampilkan tokoh-tokoh pengusaha sukses yang bergaya hidup mewah dan bergelimangan harta. 

Namun apakah Anda tahu bagaimana awal mula mereka merintis bisnis? 
Apakah Anda tahu apa saja yang sudah mereka korbankan untuk mencapai kesuksesan itu? 

Semua pencapaian yang telah diraih oleh para pengusaha sukses pastinya tidak mudah. Banyak orang hanya melihat dari apa yang telah diraih oleh para pengusaha tersebut: sukses, terkenal dan memiliki uang berlimpah. Tapi di belakang itu, sesungguhnya kerja keras, keringat dan air mata mewarnai perjalanan hidupnya. 

Media pun lebih tertarik menampilkan sosok-sosok inspiratif yang sudah sukses dan akhirnya masyarakat pun banyak yang menilai salah tentang hal tersebut. Seolah-olah menjadi pengusaha itu pasti berhasil, kaya raya dan hidup bergelimang harta. Nyatanya, tidak demikian adanya.

Saya merasakan betul bagaimana jatuh bangunnya membangun sebuah usaha. Saya harus melakukan penghematan di masa-masa awal, bahkan tidak jarang harus berkorban untuk karyawan dan kelangsungan usaha. Waktu awal saya mendirikan Rayyan Capital di tahun 2012, saya dan partner (Edwin Rahmat) tidak mendapatkan gaji selama setahun. Beberapa kali kami sampai harus memutar otak bagaimana tetap bisa membayar gaji karyawan meskipun tidak ada pemasukan sama sekali.

Baru di tahun kedua kami mulai mendapat keuntungan dari usaha yang dijalankan dan bisa menggaji diri sendiri. Itupun setelah para karyawan mendapatkan haknya. Kami menikmati masa-masa itu karena yakin bahwa ini adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan. Saya bilang ke Edwyn waktu itu, “We are building our own empire. Keep working hard and be patient.”

Kami harus mengencangkan ikat pinggang di masa-masa awal dengan tujuan untuk mengembangkan bisnis menjadi lebih besar lagi. Kami tidak berpikir bahwa saat sudah mendapat passive income, itulah waktunya untuk berhura-hura menghabiskan uang. Karena target kami adalah mengubah passive income menjadi massive passive income! Baru setelah itu kami bisa dengan tenang menikmatinya.

Demikianlah adanya, bahwa perjuangan menuju kesuksesan itu tidak mudah dan penuh jalan terjal. Di balik 10 pengusaha sukses negeri ini, ada 100 pengusaha lain yang tidak pernah berhasil dalam menjalankan usahanya. Di belakang mereka, ada lagi 100 pengusaha yang belum mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya. Di belakang mereka ada lagi 100 pengusaha lainnya dengan proposal bisnis yang belum selesai dan tertutup debu di laci. Dan di balik setiap dari mereka ada 100 orang yang bermimpi suatu hari dapat menjadi seorang pengusaha.

Hal-hal seperti inilah yang salah dipahami oleh kebanyakan mereka yang ingin terjun dan mulai berwirausaha. Para calon pengusaha merasa bahwa kesuksesan itu pasti sudah ada di depan mata dengan ilmu dan ketrampilan yang seadanya. Ini ibarat berlayar menuju samudra tanpa membawa bekal yang cukup. Nekat bin keblinger!


Menjadi seorang pengusaha itu harus selalu siap untuk mengelola risiko, kapanpun dan dimanapun. Dalam kondisi sesulit apapun, Anda harus mampu bertahan. Jangan sampai baru gagal sekali sudah menyerah, baru jatuh sekali sudah kapok. Karena itu, jangan pernah bermimpi menjadi seorang pengusaha sukses jika tidak siap dengan segala risikonya. 
  • Siapkah Anda bekerja keras siang dan malam? 
  • Siapkah Anda mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga? 
  • Siapkah Anda menghadapi resiko yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya? 
  • Siapkah Anda untuk mengencangkan ikat pinggang dalam proses membangun kerajaan bisnis? 
  • Siapkah Anda meninggalkan comfort zone dan berjuang untuk mengejar mimpi?

Jika jawaban semuanya YA, maka Anda sudah siap menjadi seorang pengusaha!

Penulis : Muhammad Assad
Sumber : bisniskeuangan.kompas.com, Rabu, 18 Maret 2015, 06:17 WIB.

Sabtu, 14 Maret 2015

Anak di Bawah Usia 3 Tahun Juga Perlu Pendidikan !


Pendidikan untuk anak kerap kali ditujukan untuk mereka dengan rentang usia 4-6 tahun. Padahal, menurut penelitian, anak pada usia 0-3 tahun sudah butuh pendidikan. 

Penelitian tersebut mengatakan, usia pada rentang 0-3 tahun merupakan Golden Age. Dikatakan demikian karena 80 persen pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut, sedangkan penyempurna sebesar 20 persen terbentuk pada masa pendidikan di atas usia tersebut. 

"Lalu kenapa di usia emas tersebut, pendidikan tidak diprioritaskan. Terlebih bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan kumuh perkotaan. Jangankan pada usia segitu, pendidikan selalu terbatas biaya dan waktu," kata Andrew Collien, salah satu mahasiswa Binus Business School, Selasa, (10/3/2015). 

Hal itulah yang kemudian membawa Andrew beserta tiga teman lainnya, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, serta Inez Rarasati mewakili Binus University International untuk menyampaikan solusi atas pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai ini dalam ajang 'Hult Prize'. 

Hult Prize adalah ajang kompetisi tahunan skala internasional untuk mencari solusi terbaik dari berbagai masalah kesejahteraan sosial dunia. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Early Childhood Education for Urban Slum”.


Urban Slum

Menurut Andrew dan timnya, pendidikan tak harus selalu berbentuk media kelas dan guru. Pendidikan bisa diterapkan dimana dan oleh siapa saja. Dalam hal ini orangtua memiliki peran penting. 

Pengaruh minimnya pendidikan anak usia dini di kawasan kumuh perkotaan adalah timbulnya fenomena word gap, yaitu kemampuan mereka menyimpan koleksi kata-kata dalam otak. Akibatnya akan jelas terlihat saat mereka berada di sekolah formal.

"Sekolah formal itu tempat mereka berbaur dengan anak-anak lain yang sudah mendapat pendidikan saat usia dini," ungkapnya.

Menurut dia, bila pendidikan sudah disadari harus diberlakukan sedini mungkin, bukan hanya fenomena word gap dapat dipecahkan, melainkan juga mereduksi angka kejahatan di masa datang. 

Berdasarkan data Hult Prize, ada 112 juta anak berusia 0 sampai 6 tahun yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan tidak mendapatkan pendidikan layak. Untuk itulah, solusi yang ditawarkan oleh Andrew dan timnya adalah Star(t) Educational Kit berupa kartu bergambar dengan menyasar usia anak 1 sampai 3 tahun.

Andrew Collien, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, dan Inez Rarasati mewakili BINUS University International untuk mengikuti kompetisi internasional Hult Prize 2015

"Picture Card menjadi media yang mudah dipelajari oleh anak-anak, khususnya mereka dengan usia 0-3 tahun. Untuk pemasarannya juga mudah. Rencananya, dalam distribusinya kami akan menggaet provider telekomunikasi yang memproduksi voucher fisik," ujar Andrew. \

Andrew menambahka, Picture Card tersebutkemudian dikombinasikan dengan fungsi voucher fisik. Mereka yang membeli pulsa bisa menjadikan voucher tersebut sebagai media pembelajaran bagi anak-anak usia dini di sekitar mereka. Pada picture card berbentuk voucher itu berisi gambar dan sedikit cerita yang mendeskripsikan gambar tersebut.

Picture Card menjadi media pembelajaran untuk anak usia 1-3 tahun. Dipakai sebagai solusi permasalahan kesejahteraan sosial kompetisi internasional.

'Ukurannya sama dengan voucher fisik, tetapi dalam bentuk lipatan. Bila dibuka akan menjadi satu gambar utuh yang besar," terang Andrew.

Dengan solusi seperti ini, tidak ada alasan untuk tidak memberi pendidikan pada anak usia dini. Seperti diketahui, sebagian banyak orang termasuk pada masyarakat kawasan kumuh perkotaan, ponsel sudah seperti kebutuhan utama. 

Harga pulsa fisik yang ekonomis tentu tidak sebesar biaya pendidikan yang selalu dianggap memberatkan. Untuk rumusan tersebut, Andrew dan teman-temannya melakukan riset di tiga kawasan, yaitu Senayan, Cinere, dan Bandung.

Tahun ini, pada kompetisi Hult Prize yang puncaknya diadakan pada 13-14 Maret 2015 di Shanghai, Andrew bersama teman-temannya maju sebagai salah satu tim dengan nama "Star(t) Team" didampingi oleh pelatih, Frans Bona Simanjuntak. Mereka akan berkompetisi dengan berpuluh-puluh tim dari 40 universitas lainnya dalam satu regional. Tim terbaik akan dikarantina di Boston bersama tim terbaik lain dari regional berbeda. 

Penulis : Sri Noviyanti
Editor : Latief
Sumber : edukasi.kompas.com, Kamis, 12 Maret 2015, 19:49 WIB.

Kamis, 12 Maret 2015

12 Karakter Pemimpin Masa Depan.


Seorang pemimpin yang baik tidak dilihat dari banyaknya ia mendapat suara dari masyarakat tetapi pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang benar-benar berjiwa demokratis dan memiliki kriteria tersendiri demi menciptakan masyarakat adil dan makmur, tidak hanya itu seorang pemimpin yang baik juga harus berkomitmen demi mencapai tujuan yang utama bukan tujuan sampingan demi meraih material. 

Ada beberapa karakter atau kriteria pemimpin yang harus diwujudkan di masa depan :


1. Berpegang teguh pada Tuhan

Seorang pemimpin harus berpegang teguh kepada Tuhan dan mempertahankan keimanan agar tidak terlibat dalam lingkaran setan.


2. Berjiwa Demokratis

Demokratis berarti tidak mementingkan diri sendiri atau pun golongan tetapi lebih mementingkan dan mendahulukan masyarakat. Jika wakil rakyat memiliki jiwa demokratis maka tidak akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan di negara ini.


3. Peka terhadap perubahan intern bangsa

Perubahan intern bangsa adalah perubahan yang terjadi di negara tersebut baik di bidang ekonomi, sosial dan budaya, maupun politik. Wakil rakyat atau anggota DPR harus cepat merespon segala bentuk tindakan dari masyarakat baik itu demonstrasi atau bukan. Seperti perubahan terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang banyak menimbulkan kericuan di masyarakat. Oleh karna itu, mereka harus bertindak cepat dalam mengatasi hal seperti itu dengan menetapkan harga BBM.


4. Mengakomodasi kesetaraan gender

Gender artinya jenis kelamin. Sedangkan kesetaraan adalah kesamaan seseorang dengan orang lain tanpa membedakan status sosial. Disini kesetaraan gender bukan berarti kesamaan antara derajat kaum pria dan kaum wanita. Melainkan, kesamaan di muka umum. Dimana setiap wakil rakyat boleh mengakomodasikan seseorang sesuai dengan keahliannya. Wanita juga berhak mengapresiasikan pendapatnya kepada wakil rakyat, bahkan wakil rakyat dapat pula berasal dari kaum wanita. Sebagai contoh, Ibu Megawati sebagai presiden wanita pertama di Indonesia.


5. Bervisi Multikulturalisme

Indonesia memiliki banyak keanekaragaman etnis atau suku, adat istiadat, agama, bahasa, kebudayaan dan lain-lain. Semua itu tercakup dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Multikulturalisme adalah tuntutan pengetahuan atas berbagai jenis kebudayaan agar kebudayaan tersebut tidak di klaim oleh negara lain. Jadi, pemerintah harus bersikap tegas dan bertindak cepat untuk segera mempatenkan milik negara yang menjadi ciri khas dan budaya bangsa.


6. Memimpin dengan Bersih dan Anti-KKN.

Jika seorang pemimpin tidak bersih dan bersikap KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) maka dampak negatif dari sikap tesebut adalah dapat membahayakan stabilitas serta keamanan, bahkan merongrong pembangunan sosial ekonomi, politik, juga nilai-nilai demokrasi. Apabila pemimpin bersikap bersih dan bebas dari KKN maka akan terwujud para pemimpin atau wakil rakyat yang jujur dan dapat mempertahankan stabilitas keamanan, bahkan mempercepat pembangunan sosial ekonomi, politik dan nilai demokratis akan terwujud.


7. Mengutamakan Profesionalisme dan Kepemimpinan

Seorang pemimpin diangkat karena keahlian, kesamaaan visi ke depan, dan keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan yang membawa bangsa ini maju dan beradab secara tegas. Bukan sebaliknya, seorang pemimpin diangkat karena memiliki kedekatan semata terhadap pemimpin yang ada diatasnya hal tersebut dilakukan secara tidak profesional.


8. Berani Bermimpi dan Mewujudkannya

Berani mengatur langkah dan bertindak adalah tanda keberanian untuk mewujudkan berbagai hal yang menjadi impiannya. Sedangkan mimpi adalah sebuah imajinasi dan angan-angan tentang bagaimana bangsa ini perlu diubah agar kesengsaraan masyarakat dan beban-beban bangsa yang berat bisa teratasi.


9. Keharusan Memiliki Visi Jauh ke Depan

Visi adalah wawasan jauh ke depan dan juga keinginan akhir yang dituju. Untuk menciptakan masyarakat yang makmur, adil dan sejahtera, jauh waktu sebelum semua itu para pemimpin telah memesan tentang pentingnya semangat dalam penyelenggaraan kepemimpinan bangsa. Semangat yang baik akan membuahkan kepemimpinan yang baik, meskipun undang-undang dasarnya yang ada misalnya kurang baik. Sebaliknya, meskipun undang-undang dasarnya bagus, tetapi mutu semangat kepemimpinannya rendah ( hanya untuk mementingkan pribadi dan golongan), undang-undang yang baik pun akan direkayasa.


10. Jiwa Nasionalisme dan Merakyat

Wakil rakyat harus memiliki tujuan yang sama dengan masyarakat yaitu menciptakan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Karena wakil rakyat berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jika wakil rakyat memiliki jiwa nasionalisme dan merakyat maka semua tujuan akan tercapai.


11. Ketekunan dan Kemandirian

Seorang pemimpin harus memiliki ketekunan dalam menciptakan tujuan-tujuannya terhadap bangsa walaupun hal yang diraih harus butuh perjuangan dan dilakukan berulang-ulang sampai pada apa yang ingin dicapai. Kemandirian tidak luput dari aspek pencapaian bangsa yang merdeka dalam artian bukan tidak menerima pemberian dari orang lain tetapi dalam hal ini pemberian orang lain tidaklah dianggap sebagai tujuan. Segala sesuatu harus dimulai dari hal yang kecil dan terbatas. Dengan sifat ketekunan dan kemandirian inilah yang kelak berkembang dan menjalar menjadi semangat bangsa secara nasional.


12. Amanah dan Bertanggung jawab

Amanah adalah sebuah kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada wakil rakyat atau anggota DPR yang bertugas untuk menyampaikan segala bentuk apresiasi positif dari masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintah yang bebas aktif. Selain itu, amanah tersebut harus dipertanggung-jawabkan dampaknya, apakah berdampak positif atau negatif karena setiap perbuatan yang dilakukan harus didasarkan pada tanggung jawab seseorang yang melakukannya.

Dengan karakter-karakter tersebut, para calon pemimpin dapat selalu mengevaluasi diri agar dapat menjadi aktor utama dalam mengembalikan jati diri bangsa. Sebagai contoh, Soekarno yang terkenal dengan sebutan Bung Karno merupakan pemimpin bangsa sejati. Jiwa patriotisme yang dimiliki oleh beliau yang mengantarkan Indonesia pada kursi kepemimpinan. Gaya kepemimpinan Soekarno menghipnotis dunia. Meski saat itu kondisi Indonesia dalam impitan ekonomi dan sosial yang mendera, secara politis Indonesia begitu kukuh di mata dunia. Walaupun semua kriteria di atas bisa saja tidak tercapai, tetapi kita berharap memiliki pemimpin yang mampu merangkul semua aspek kehidupan di Indonesia dan memajukan bangsa ini demi mengembalikan jati diri bangsa.

Referensi :
Khalik, Nur. (2012). Kepemimpinan Kaum Muda. Yogyakarta : Cempaka Putih.

Penulis :  Septia Milanda
Sumber : www.pewarta-indonesia.com, Kamis, 05 Juli 2012 10:18 WIB.